entah mengapa jalan yang ku tempuh dipenuhi oleh lubang-lubang jalan yang rapuh
lintas wilayah yang di lewati hanya untuk kepastian diri di abu2 yang akan datang
lalu lalang yang menandakan harapan pada sebuah kayu keropos dan lantai tanah yang bernama sekolah
orang2 yang di katakan si besar pantas mendapatkan pendidikan yang layak tetapi lebih memilih obat bius yang di labeli pahlawan pangan dan kemanusiaan