anak-now-1
Ada Apa dengan Anak Sekarang.

“Ada apa dengan anak sekarang?” Pertanyaan ini sering muncul ketika kita melihat perilaku anak-anak yang berbeda dari generasi sebelumnya. Misalnya, anak lebih memilih bermain HP daripada bermain di luar, lebih senang menonton video pendek daripada membaca buku, atau tetap memegang gawai ketika sedang makan bersama keluarga.

Di sekolah, ada pula anak yang mudah bosan ketika guru menjelaskan, sulit berkonsentrasi dalam waktu lama, berbicara dengan teman saat pelajaran, atau lebih tertarik membuka media sosial daripada menyelesaikan tugas.

Namun, apakah anak sekarang benar-benar lebih buruk? Mereka sebenarnya hanya tumbuh di zaman yang berbeda. Teknologi dan derasnya informasi telah mengubah cara mereka belajar, bermain, dan berkomunikasi.

Karena itu, daripada terus menyalahkan anak, kita perlu memahami perilakunya. Anak memang perlu belajar disiplin, seperti mengatur waktu bermain HP, menghormati guru, menyelesaikan tugas, dan membiasakan diri berkomunikasi dengan keluarga tanpa selalu bergantung pada gawai.

Pada saat yang sama, orang tua dan guru juga perlu menjadi contoh. Jangan sampai kita meminta anak berhenti bermain HP, sementara kita sendiri sibuk dengan ponsel ketika sedang berbicara dengan mereka.

Anak zaman sekarang bukan berarti anak yang lebih buruk. Mereka adalah anak yang menghadapi tantangan yang berbeda. Tugas kita bukan sekadar menegur perilakunya, tetapi membantu mereka memahami batas, bertanggung jawab, dan menggunakan teknologi dengan bijak.

Parongpong, 25 – 09 – 2026

DADAN SUHERLAN, S.PD

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait