DAULAT HENING
Asifudin HD
Kutumpuk ribuan aksara saban malam
sekadar untuk memberi rupa pada hadirmu.
Namun saat kau berdiri di depanku dalam hening,
aku sadar:
keheningan fisikmu jauh lebih berkuasa
dari seluruh puisi yang pernah kuciptakan.
Jemarimu menyentuh dadaku tanpa kata,
dan seluruh bahasa runtuh seketika.
