Bel istirahat baru saja berbunyi. Aku, Rani, dan Dika langsung berjalan menuju kantin untuk membeli makanan. Dari kejauhan, sudah terlihat banyak siswa yang berkerumun di depan kantin.
Sesampainya di sana, kami melihat antrean yang cukup panjang. Kantin sekolah kami memang tidak terlalu luas. Tempatnya sempit dan tidak ada meja atau kursi untuk makan.
“Aku mau beli gorengan, tapi antreannya panjang banget,” kata Rani.
Dika melihat ke arah kantin. “Iya, kalau sudah beli langsung pergi lagi. Di sini juga enggak ada tempat buat duduk.”
Kami akhirnya ikut mengantre. Setelah mendapatkan makanan, kami tidak bisa makan di kantin karena tidak ada tempat untuk duduk. Kami pun membawa jajanan masing-masing dan berjalan kembali ke kelas.
“Pantesan kantin selalu penuh pas istirahat,” kataku.
“Iya, semua orang datang hampir bersamaan buat jajan,” jawab Rani.
Dika menambahkan, “Terus karena tempatnya sempit, jadi kelihatannya makin ramai.”
Aku baru menyadari bahwa semua orang mengira kantin ramai karena siswa ingin makan dan berkumpul bersama teman, padahal kantinnya sempit dan tidak memiliki tempat duduk sehingga kebanyakan siswa hanya membeli jajanan lalu pergi.
Tak lama kemudian, bel masuk berbunyi. Kami kembali ke kelas sambil membawa jajanan yang sudah dibeli.
Ternyata, keramaian kantin bukan karena siswa menghabiskan waktu di sana, tetapi karena banyak siswa datang bersamaan untuk membeli jajanan.