DIA YANG TIDAK BISA PULANG
Parkiran sekolah mulai sepi. Hampir semua siswa sudah pulang, tetapi ia masih berdiri di samping motornya dengan wajah panik. Tangannya sibuk mengobrak-abrik isi tas.
“Waduh, kunci motor ini di mana, ya?”
Satu per satu barang dikeluarkan. Buku, tempat pensil, charger, sampai isi kantong diperiksa. Hasilnya tetap sama: tidak ada kunci.
“Coba ingat-ingat lagi. Terakhir pegang kapan?” tanya temannya.
“Kalau ingat, ia tidak akan sepanik ini!”
Ia kembali melihat ke sekitar motor. Tidak ada apa-apa. Ia mulai merasa bingung.
“Jangan-jangan jatuh…” gumamnya.
“Coba telepon teman yang tadi bersama,” kata temannya.
Telepon pun dilakukan. Beberapa detik kemudian, panggilan tersambung.
“Halo, ada apa?”
“Kunci motor ini ada di kamu, tidak?”
“…Kunci?”
“Iya, kunci motor. Jangan bilang—”
“Tunggu, aku cek tas dulu.”
Terdengar suara barang-barang diperiksa dari seberang telepon.
“Eh…”
“Apa?”
“Sepertinya ada.”
“Benarkah?”
“Ini kunci motor kamu, ya?”
Ia langsung menghela napas panjang.
“Iya, itu kunci motor ini. Kok bisa ada di tas kamu?”
Temannya tertawa kecil. “Sepertinya tadi terbawa saat aku beres-beres.”
“Sepertinya? Ia dari tadi sudah bingung mencarinya di seluruh parkiran!”
Masalahnya ternyata sederhana. Kuncinya tidak hilang. Tidak jatuh. Tidak diambil orang.
Kuncinya sudah pulang lebih dulu bersama temannya.
Sementara ia masih berdiri di parkiran, menatap motornya sendiri dengan kesal.
“Ia kira hari ini yang akan pulang duluan itu dirinya.”
Ternyata bukan.
Kuncinya. Bahkan kunci itu sudah sampai rumah duluan, sementara pemiliknya masih jadi satpam parkiran—semua gara-gara kunci yang punya rencana pulang lebih matang daripada pemiliknya.