DIAGNOSA RINDU
Asifudin HD
Rindu membatu,
menahan diam yang membeku.
Pohon memohon,
pada angin yang enggan memberi ampun.
Dan hujan menghunjam,
menusuk dada bumi yang lama bungkam.
Di luar, rindu kian menggenang.
Kaki-kaki hujan menari jingkat di atas permukaan,
mengejek sunyi yang tak tahu cara pulang.
“Jika rindu semakin parah,
haruskah ia dilarikan ke ICU?”
Dokter akan bingung memeriksa tabung oksigen,
sebab yang sesak bukan paru-paru,
melainkan dada yang terlalu penuh oleh namamu.
Jarum infus tak akan sanggup meneteskan penawar,
untuk dada yang terluka tanpa pernah berdarah.
Maka biarlah ia tetap menggenang di sana.
Sebab untuk rindu yang kronis begini,
puisi adalah satu-satunya ruang rawat inap
yang tak pernah memberimu izin untuk sembuh.
