IMG-20261014-WA0013
hp yang sengaja tidak dikumpulkan

Kotak kayu di belakang meja guru sudah terisi puluhan

ponsel sebelum pelajaran fisika dimulai. “Jumlah kalian ada 39 orang, tetapi disini cuma ada 38 ponsel, Kata Pak Aris dengan suara tegas menggema diruangan. “Siapa yang

belum menyerahkan ponselnya?” Tanya Pak Aris. Suasana kelas mendadak hening. Di sudut belakang, Bimo berusaha bersikap

Tenang walau jemarinya 

menggenggam erat erat ponsel yang

sengaja ia sembunyikan di dalan tas. “Pasti Bimo pak” celotehan Angga, ketua kelas, sambil menunjuk ke arah belakang. “Dia dari tadi bolak-balik pegang tasnya, paling sengaja disimpan

mau sembunyi-sembunyi main game pas jam pelajaran.” Bisik -bisik mulai terdengar di antara para siswa. Semua

orang mengira Bimo sengaja menyembunyikan ponselnya karena

malas mengikuti pelajaran dan ingin bermain game saat pak Aris mengajar. 

 

“Bimo, kumpulkan ponselmu sekarang! perintah Pak Aris sambil mengetuk meja. Bimo berdiri perlahan, lalu melangkah ke

depan kelas. Namun, bukannya memasukan ponsel ke kotak kayu, ia justru memegang rapat-rapat di dada dengan tangan gemetar. Sebelum pak Aris sempat menegur lebih lanjut, layar ponsel Bimo mendadak 

menyala terang. Dering nyaring memecah kesunyian.

menampilkan pangilan masuk dari kontak bertuliskan RUMAH

SAKIT beserta sebuah pesan singkat yang muncul di layarnya.

 

“Pak.maafkan saya…” Bisik Bimo dengan suara parau, dan mata yang mulai berkaca-kaca, “ibu saya masuk ruang operasi darurat sepuluh menit lalu. Saya harus terus pegang Hp ini karena dokter bilang akan langsung kabari saya kalau

operasinya Selesai”

 

yoga seketika terdiam. Pak Aris menatap layar ponsel yang masih bergetar itu, lalu menghela nafas panjang dan menepuk bahu Bimo dengan lembut. “Ambil tasmu, Bimo kamu boleh langsung pergi ke rumah sakit sekarang”. ujar Pak Aris tenang. Bimo mengangguk cepat, menyambar tasnya, lalu berlari meninggalkan ruang kelas. Ia tidak bermaksud melanggar aturan, melainkan hanya ingin menggenggam satu-satunya kabar tentang keselamatan 

ibunya.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait