Kotak kayu di belakang meja guru sudah terisi puluhan
ponsel sebelum pelajaran fisika dimulai. “Jumlah kalian ada 39 orang, tetapi disini cuma ada 38 ponsel, Kata Pak Aris dengan suara tegas menggema diruangan. “Siapa yang
belum menyerahkan ponselnya?” Tanya Pak Aris. Suasana kelas mendadak hening. Di sudut belakang, Bimo berusaha bersikap
Tenang walau jemarinya
menggenggam erat erat ponsel yang
sengaja ia sembunyikan di dalan tas. “Pasti Bimo pak” celotehan Angga, ketua kelas, sambil menunjuk ke arah belakang. “Dia dari tadi bolak-balik pegang tasnya, paling sengaja disimpan
mau sembunyi-sembunyi main game pas jam pelajaran.” Bisik -bisik mulai terdengar di antara para siswa. Semua
orang mengira Bimo sengaja menyembunyikan ponselnya karena
malas mengikuti pelajaran dan ingin bermain game saat pak Aris mengajar.
“Bimo, kumpulkan ponselmu sekarang! perintah Pak Aris sambil mengetuk meja. Bimo berdiri perlahan, lalu melangkah ke
depan kelas. Namun, bukannya memasukan ponsel ke kotak kayu, ia justru memegang rapat-rapat di dada dengan tangan gemetar. Sebelum pak Aris sempat menegur lebih lanjut, layar ponsel Bimo mendadak
menyala terang. Dering nyaring memecah kesunyian.
menampilkan pangilan masuk dari kontak bertuliskan RUMAH
SAKIT beserta sebuah pesan singkat yang muncul di layarnya.
“Pak.maafkan saya…” Bisik Bimo dengan suara parau, dan mata yang mulai berkaca-kaca, “ibu saya masuk ruang operasi darurat sepuluh menit lalu. Saya harus terus pegang Hp ini karena dokter bilang akan langsung kabari saya kalau
operasinya Selesai”
yoga seketika terdiam. Pak Aris menatap layar ponsel yang masih bergetar itu, lalu menghela nafas panjang dan menepuk bahu Bimo dengan lembut. “Ambil tasmu, Bimo kamu boleh langsung pergi ke rumah sakit sekarang”. ujar Pak Aris tenang. Bimo mengangguk cepat, menyambar tasnya, lalu berlari meninggalkan ruang kelas. Ia tidak bermaksud melanggar aturan, melainkan hanya ingin menggenggam satu-satunya kabar tentang keselamatan
ibunya.