Ide Jenius yang Gagal Paham
Jam istirahat kedua siang itu terasa sangat gerah di teras samping kelas. Deden dan Aldin duduk selonjoran di lantai, sementara Wawan berdiri di depan mereka sambil memegang buku tulis. Wawan kelihatan bersemangat sekali hari ini karena mau membagikan ide kelompok untuk tugas kliping minggu depan. Gaya bicaranya sudah mirip motivator sukses di televisi.
“Jadi begini, rek. Biar kliping kita beda dari yang lain, kita harus pakai konsep sinkronisasi data visual. Maksudnya, gambar sama tulisannya itu harus punya energi estetika yang seimbang!” seru Wawan sambil tangannya bergerak-gerak di udara. Wawan tersenyum lebar, merasa idenya ini sangat jenius, keren, dan revolusioner. Dia menatap Deden dan Aldin, menunggu kedua temannya itu tepuk tangan.
Padahal sebenarnya, Deden dan Aldin dari tadi cuma melongo. Kepala mereka mendadak pening mendengar istilah-istilah aneh yang keluar dari mulut Wawan. Alih-alih paham, penjelasan Wawan yang muter-muter itu malah bikin mereka berdua makin bingung mau mulai tugas dari mana.
“Bagaimana? Keren banget kan ideku? Pasti kliping kita paling beda seangkatan!” tanya Wawan penuh percaya diri sambil melipat tangan di dada.
Deden memegang kepalanya yang mendadak pusing, lalu menyenggol lengan Aldin. Sementara Aldin hanya menatap buku tulis Wawan yang penuh dengan coretan lingkaran dan tanda panah yang mirip benang kusut. Suasana di teras itu mendadak hening selama beberapa detik. Wawan masih setia menunggu pujian.
Aldin akhirnya mengembuskan napas panjang. “Wan, sejujurnya ya… dari awal kamu ngomong sampai terakhir tadi, kami berdua sama sekali tidak paham kamu itu lagi ngomongin apa.”
Seketika, senyum bangga di wajah Wawan langsung hilang. Muka sok jeniusnya berubah jadi melongo pasrah yang kelihatan sangat kocak. Deden yang sudah tidak tahan langsung tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Wawan yang baru sadar kalau kejeniusannya cuma ada di otaknya sendiri.
Dibuat oleh Denta Nugraha XI-F