KEMARAU PANJANG DI PIPI SEPTEMBER
Asifudin HD
Awan kelabu menumpuk di ambang cakrawala sore,
kini langit menyerahkan seluruh bebannya pada bumi.
Tanah kering yang retak dibelai tumpahan hujan,
maka petrikor menyeruak, melunakkan sisa-sisa kemarau.
Dunia punya mekanisme menyembuhkan dahaganya sendiri.
Saat September hampir memuntahkan seluruh harinya.
Di luar jendela, hujan akhir September turun dengan begitu patuh,
membasuh wajah rindu bumi yang telah lama gersang,
menyapu debu-debu jalanan, dan mengembalikan siklus kehidupan sesuai tatanan.
Sains mencatatnya sebagai presipitasi yang sempurna:
apa yang naik sebagai uap panas, akan jatuh sebagai air yang dingin.
Tapi di kamar yang temaram ini,
hukum meteorologi itu berhenti bekerja.
Rindu yang membumbung tinggi dari dadaku berbulan-bulan,
tak pernah jatuh kembali sebagai penawar yang menenangkan.
Ia tertahan di langit-langit pikiran,
menjadi redum yang abadi, menolak mencair, dan menolak usai.
Aku menatap rebasnya yang merambat di kaca jendela,
membayangkan betapa beruntungnya bumi yang selalu punya cara untuk dibasuh.
Sementara aku harus berdiri sendirian di pelataran fajar,
menonton September yang siap berlalu tanpa membawa pergi bayangmu,
membiarkan batin ini tetap redum di tengah riuh hujan yang turun.
Ternyata penderitaan paling dingin bagi seorang laki-laki
bukanlah saat ia terjebak di tengah badai yang paling lebat.
Melainkan ketika ia menyadari di ujung bulan September:
bahwa hujan sanggup membasuh seluruh rindu bumi pada langit,
namun tak satu pun tetesnya sanggup menghapus rindu di dadaku padamu.
Sariwangi, 27 September 2026
