KEPO DULU, NULIS KEMUDIAN
Oleh Asifudin HD
Ada satu kata yang sering dipakai untuk menyindir orang yang terlalu ingin tahu: kepo. “Kepo banget sih!” biasanya diucapkan ketika seseorang bertanya terlalu banyak tentang sesuatu yang sebenarnya bukan urusannya. Kepo kadang dianggap sebagai kebiasaan mengintip kehidupan orang lain, membaca percakapan yang bukan untuknya, atau mencari tahu sesuatu hanya karena penasaran.
Tetapi bagaimana kalau kepo kita pindahkan sedikit tempat duduknya?
Bagaimana kalau kepo tidak lagi hanya diarahkan kepada kehidupan orang lain, tetapi kepada dunia di sekitar kita?
Sebab, diam-diam, seorang penulis memang harus punya sedikit sifat kepo.
Ia harus penasaran. Ia harus memperhatikan. Ia tidak cepat puas dengan jawaban pertama. Ia melihat sesuatu yang bagi orang lain biasa saja, lalu bertanya, “Mengapa begitu?” Dari pertanyaan sederhana itulah tulisan sering kali mulai tumbuh.
Seorang siswa melihat kursi kosong di pojok kelas. Teman-temannya mungkin hanya melihat kursi. Seorang calon penulis bisa bertanya, mengapa kursi itu selalu kosong? Siapa yang biasanya duduk di sana? Mengapa sekarang tidak ada? Apakah pemiliknya pindah sekolah? Sedang sakit? Bertengkar dengan seseorang? Atau memang sejak awal tidak pernah ada yang mau duduk di sana?
Satu kursi bisa menjadi satu paragraf.
Satu pertanyaan bisa menjadi satu cerita.
Masalahnya, kita sering mengira ide menulis harus datang dalam bentuk sesuatu yang besar. Kita menunggu pengalaman luar biasa, perjalanan jauh, kejadian dramatis, atau sesuatu yang belum pernah ditulis orang lain. Padahal ide kadang sedang berdiri di depan kita sambil menguap, membuang sampah, membeli gorengan, terlambat masuk kelas, atau tidur di bangku paling belakang.
Yang kurang bukan peristiwanya.
Yang kurang adalah rasa ingin tahunya.
Kepo, dalam pengertian yang lebih sehat, sebenarnya adalah pintu masuk menuju pengamatan. Ketika kita penasaran terhadap sesuatu, perhatian kita berubah. Sesuatu yang semula lewat begitu saja mulai kita lihat lebih lama. Kita mulai memperhatikan detail. Kita mendengar percakapan. Kita mencatat perubahan. Kita membandingkan keadaan. Kita bertanya kepada orang lain. Tanpa disadari, kita sedang mengumpulkan bahan tulisan.
Misalnya, setiap pagi ada seorang penjaga sekolah yang selalu datang paling awal. Ia membuka gerbang sebelum sebagian besar siswa melihat matahari dari balik jendela kelas. Selama ini kita mungkin hanya mengenalnya sebagai “Pak Satpam”. Selesai.
Tetapi seorang yang kepo akan bertanya: sejak pukul berapa ia datang? Apa yang dilakukannya sebelum siswa berdatangan? Apakah ia selalu sarapan? Siapa orang pertama yang menyapanya setiap pagi? Apa yang ia pikirkan ketika melihat ratusan siswa masuk melewati gerbang? Apakah ada siswa yang wajahnya ia hafal tetapi namanya tidak ia tahu?
Tiba-tiba “Pak Satpam” bukan lagi sekadar Pak Satpam.
Ia menjadi tokoh.
Begitu pula dengan kantin sekolah. Kita bisa saja melihatnya sebagai tempat membeli makanan. Tetapi rasa ingin tahu dapat membuat kita menemukan cerita lain. Mengapa menu tertentu selalu habis lebih cepat? Mengapa ada siswa yang selalu membeli makanan yang sama? Mengapa pedagang kantin hafal pesanan beberapa siswa? Apa yang terjadi ketika harga bahan makanan naik? Berapa banyak gelas plastik yang terkumpul dalam satu hari?
Kantin berubah menjadi objek pengamatan.
Dan pengamatan adalah salah satu pintu menuju tulisan.
Karena itu, ketika seorang siswa berkata, “Saya tidak punya ide untuk menulis,” mungkin persoalannya bukan benar-benar tidak punya ide. Bisa jadi ia terlalu cepat mengatakan bahwa sesuatu tidak menarik.
Padahal hampir semua hal menjadi menarik jika kita bersedia bertanya sedikit lebih jauh.
Buku yang tergeletak di meja bisa memunculkan pertanyaan. Suara bel sekolah bisa memunculkan cerita. Sepatu yang basah karena hujan bisa menjadi awal tulisan. Coretan di dinding bisa mengantarkan kita pada sejarah kecil sebuah kelas. Bahkan tempat sampah yang penuh setelah istirahat dapat menjadi bahan tulisan tentang kebiasaan warga sekolah memperlakukan lingkungannya.
Menulis tidak selalu dimulai dari kalimat.
Kadang menulis dimulai dari rasa heran.
Kadang dari rasa curiga.
Kadang dari pertanyaan yang tidak kunjung selesai.
Dan kadang memang dari kepo.
Tetapi ada satu hal yang perlu dibedakan. Kepo yang menjadi bahan tulisan bukanlah kepo yang berhenti pada gosip. Kalau kita hanya ingin mengetahui kehidupan orang lain untuk kemudian menyebarkannya, kita belum menjadi penulis. Kita baru menjadi penonton yang membawa pengeras suara.
Penulis membutuhkan sesuatu yang lebih dari sekadar ingin tahu. Ia membutuhkan etika.
Ketika mengamati orang lain, kita harus tahu batas. Tidak semua hal harus ditulis. Tidak semua rahasia layak dijadikan cerita. Tidak semua kehidupan pribadi boleh dijadikan bahan bacaan. Rasa ingin tahu perlu berjalan bersama tanggung jawab.
Di situlah literasi bekerja.
Literasi bukan sekadar kemampuan membaca banyak buku atau menulis banyak halaman. Literasi juga merupakan kemampuan membaca keadaan, memahami konteks, mempertanyakan sesuatu, memilah informasi, kemudian mengolahnya menjadi gagasan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Maka, kalau ingin mulai menulis, mungkin kita tidak perlu terlebih dahulu mencari tema yang rumit.
Cobalah menjadi sedikit lebih kepo terhadap lingkungan sendiri.
Kepo terhadap sekolah.
Kepo terhadap buku.
Kepo terhadap manusia.
Kepo terhadap kata.
Kepo terhadap hujan yang selalu membuat halaman belakang sekolah berubah menjadi kubangan.
Kepo terhadap mengapa seorang teman yang biasanya ramai tiba-tiba diam.
Kepo terhadap mengapa sebuah puisi terasa lebih menyakitkan ketika dibaca malam hari.
Kepo terhadap mengapa kita lebih mudah menulis komentar panjang di media sosial daripada satu halaman di buku tulis.
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu mungkin belum menjadi tulisan.
Tetapi ia sudah menjadi pintu.
Setelah pintu terbuka, pekerjaan berikutnya adalah mengamati.
Setelah mengamati, bertanya.
Setelah bertanya, mencatat.
Setelah mencatat, menghubungkan.
Setelah menemukan hubungan, menulis.
Dengan begitu, menulis tidak lagi terasa seperti mencari sesuatu yang tidak ada. Kita hanya perlu belajar melihat sesuatu yang selama ini ada, tetapi belum kita perhatikan.
Mungkin selama ini kita terlalu sibuk mencari ide di tempat yang jauh.
Padahal ide sedang duduk di sebelah kita.
Ia mungkin sedang mengantre di kantin.
Mungkin sedang berdiri di depan perpustakaan.
Mungkin sedang menunggu bel pulang.
Mungkin bahkan sedang membuka ponsel dan bertanya, “Kok dia bisa begitu, ya?”
Nah, di situ tulisan bisa dimulai.
Kepo dulu. Amati kemudian. Tulis setelahnya.
Sebab, bisa jadi, seorang penulis bukanlah orang yang paling banyak mengetahui sesuatu.
Ia hanya orang yang tidak terlalu cepat berhenti bertanya.
