1000558534
Kertas yang Tak Pernah Hilang

Nama: Elsa Dwi Putri

Kelas: XI-J


Lima Pertanyaan Hasil Pengamatan

Yang diamati: Sebuah kertas tanpa nama ditemukan di bawah meja kelas.

1. Siapa yang menulis kertas itu?

2. Mengapa kertas itu tidak memiliki nama?

3. Mengapa kertas itu sengaja diletakkan di bawah meja?

4. Apakah ada seseorang yang seharusnya menemukan kertas tersebut?

5. Apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh penulisnya?


“Semua orang mengira…, padahal…”

Semua orang mengira kertas itu hanyalah catatan yang tertinggal di bawah meja.

Padahal sebenarnya, kertas itu sengaja ditinggalkan untuk seseorang yang merasa tidak pernah diperhatikan.


Fiksi Mini — Kertas yang Tak Pernah Hilang

Bel pulang baru saja berbunyi ketika Raka menemukan selembar kertas terlipat di bawah mejanya. Kelas sudah hampir kosong. Hanya ada Raka dan Naya yang sedang membereskan buku.

“Ini punya kamu?” tanya Raka sambil mengangkat kertas itu.

Naya menggeleng. “Bukan. Coba buka.”

Di dalamnya hanya ada satu kalimat.

Terima kasih sudah tetap datang, meskipun tidak ada yang menunggumu.

Raka terdiam. Kalimat itu terasa aneh. Tidak ada nama, tidak ada tanda tangan. Hanya tulisan tangan yang rapi.

“Jangan-jangan surat rahasia,” kata Naya setengah bercanda.

Raka tertawa kecil. “Atau jangan-jangan ada yang salah taruh.”

Mereka mencoba menebak siapa penulisnya. Mungkin seseorang yang sedang sedih. Mungkin hanya lelucon. Akhirnya, Raka melipat kembali kertas itu dan meletakkannya di atas meja.

Namun sebelum keluar, ia melihat sesuatu di balik kertas tersebut. Ada tulisan yang lebih kecil.

Besok, jangan duduk sendirian lagi.

Raka menatap Naya.

“Kayaknya ini buat seseorang,” katanya.

“Bisa jadi buat kamu.”

Raka tertawa, tetapi kali ini tidak menjawab.

Keesokan harinya, ia datang lebih awal. Di bawah meja yang sama, ada kertas lain.

Terima kasih sudah datang lagi.

Raka mulai merasa tidak nyaman. Ia mencari Naya, tetapi bangkunya masih kosong. Saat membuka laci, ia menemukan sebuah foto kelas lama. Di foto itu ada seorang siswa yang tidak dikenalnya.

Di belakang foto tertulis:

Namaku Arga. Aku pernah duduk di tempatmu.

Raka membalik foto itu sekali lagi. Ada satu kalimat terakhir.

Aku juga pernah menunggu seseorang menyadari bahwa aku ada.

Hari itu Raka tidak membuang kertas tersebut.

Ia menyimpannya.

Bukan karena takut, tetapi karena untuk pertama kalinya ia sadar, mungkin ada orang di sekitarnya yang selama ini hanya menunggu untuk dilihat.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait