KETIKA LANGIT KEMBALI MENULIS
Oleh: Asifudin HD
Hujan Pertama Setelah Kemarau Panjang sebagai Bahan Bacaan dari Alam
Semalam langit akhirnya menulis lagi.
Setelah cukup lama hanya menyimpan warna biru dan membiarkan matahari bekerja lebih banyak daripada biasanya, hujan turun. Tidak ada pengumuman dari pengeras suara. Tidak ada pesan di grup WhatsApp yang mengatakan, “Mohon bersiap, hujan akan segera dimulai.” Ia datang begitu saja, mengetuk atap, membasahi halaman, dan membuat udara yang selama kemarau terasa kering kembali memiliki aroma yang berbeda.
Beberapa orang mungkin menganggapnya peristiwa biasa. Hujan memang seharusnya turun. Bukankah begitu cara alam bekerja?
Namun, sesuatu yang biasa dapat berubah menjadi istimewa ketika kita sempat lama tidak memilikinya.
Ketika Hujan Menjadi Bacaan
Kemarau membuat kita belajar bahwa air tidak selalu datang ketika kita membutuhkannya. Tanaman menunggu. Tanah mengeras. Debu lebih mudah beterbangan. Pepohonan seperti menyimpan napasnya sendiri. Kita pun mulai terbiasa melihat halaman sekolah dalam keadaan kering.
Sampai akhirnya hujan pertama turun.
Tiba-tiba halaman sekolah berubah. Debu yang selama ini menempel seperti menemukan alasan untuk pergi. Tanaman terlihat lebih segar. Tanah kembali lembap. Air mulai mencari jalan menuju tempat yang lebih rendah. Daun-daun yang semula diam bergerak ketika disentuh tetesan air.
Tidak ada yang benar-benar diam ketika hujan datang.
Bahkan selokan pun seperti kembali memiliki pekerjaan.
Saya kemudian membayangkan hujan sebagai tulisan.
Langit adalah penulisnya. Awan menjadi tempat tinta dikumpulkan. Tetes air adalah huruf-huruf yang dijatuhkan satu per satu ke bumi. Atap sekolah menjadi halaman pertama. Daun-daun menjadi pembaca yang paling awal. Tanah menerima tulisan itu tanpa pernah meminta kita menerjemahkannya.
Masalahnya, manusia sering terlalu sibuk mencari tulisan di dalam buku sampai lupa bahwa alam juga mempunyai banyak halaman untuk dibaca.
Hujan, misalnya.
Ia tidak hanya membawa air. Ia membawa pertanyaan.
Ke mana air yang jatuh di halaman sekolah akan pergi? Apakah selokan masih mampu menampungnya? Apakah ada sampah yang menghambat perjalanan air? Apakah tanaman di sekitar sekolah mendapatkan cukup air? Adakah air hujan yang dapat ditampung dan dimanfaatkan kembali?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu sebenarnya sudah merupakan bagian dari literasi.
Literasi Tidak Selalu Berbentuk Buku
Literasi sering kali kita bayangkan sebagai kegiatan membaca buku, kemudian menulis sesuatu berdasarkan apa yang telah dibaca.
Padahal, membaca memiliki wilayah yang jauh lebih luas.
Membaca adalah kemampuan memahami sesuatu.
Karena itu, halaman sekolah pun dapat menjadi teks. Pohon dapat menjadi teks. Sampah dapat menjadi teks. Selokan dapat menjadi teks. Bahkan hujan dapat menjadi teks.
Ketika siswa memperhatikan perubahan halaman sekolah setelah hujan, mereka sedang membaca lingkungan.
Ketika mereka bertanya mengapa suatu bagian halaman tergenang sementara bagian lain tidak, mereka sedang membaca sebab dan akibat.
Ketika mereka menghitung berapa banyak air yang kira-kira dapat ditampung dari atap sekolah, mereka sedang membaca angka.
Ketika mereka menulis pengalaman tentang hujan, mereka sedang mengubah pengalaman menjadi bahasa.
Satu peristiwa alam dapat membuka banyak pintu pembelajaran.
IDE LITERASI DARI HUJAN
1. Literasi Bahasa
Siswa dapat menulis pengalaman tentang hujan pertama setelah kemarau dengan sudut pandang yang berbeda. Tidak harus selalu menjadi puisi. Mereka dapat membuat esai pendek, catatan reflektif, berita sekolah, cerita mini, atau bahkan menulis “surat kepada hujan”.
2. Literasi Sains
Siswa mengamati perubahan lingkungan sebelum dan sesudah hujan. Apa yang berubah pada tanah, tanaman, suhu, udara, dan kondisi halaman?
3. Literasi Numerasi
Sekolah dapat mengajak siswa membuat perhitungan sederhana. Misalnya, jika luas atap yang menjadi daerah tangkapan air adalah 100 meter persegi dan turun hujan dengan curah 10 milimeter, berapa kira-kira volume air yang jatuh di atasnya?
Dengan pendekatan sederhana, siswa dapat memahami bahwa angka tidak selalu tinggal di buku matematika. Angka juga turun bersama hujan.
4. Literasi Lingkungan
Setelah hujan, siswa dapat mengamati kondisi selokan, saluran air, titik genangan, sampah yang terbawa arus, dan tanaman di sekitar sekolah. Hasil pengamatan dapat menjadi dasar untuk membuat usulan sederhana tentang pengelolaan lingkungan sekolah.
5. Literasi Seni
Hujan mengubah warna dan suasana lingkungan. Siswa dapat mendokumentasikan perubahan tersebut melalui fotografi, sketsa, ilustrasi, atau karya seni rupa lainnya.
Dengan demikian, hujan tidak berhenti sebagai peristiwa yang membuat kita mencari payung.
Ia menjadi bahan belajar.
Ketika Alam Memperlihatkan Kebiasaan Kita
Ada hal lain yang dapat dibaca dari hujan.
Sampah.
Ketika air mulai mengalir di selokan, sampah yang sebelumnya tersembunyi tiba-tiba memiliki keberanian untuk memperlihatkan diri. Plastik, daun kering, bungkus makanan, dan berbagai benda kecil dapat ikut terbawa arus.
Di sinilah hujan seperti menjadi cermin.
Ia memperlihatkan sesuatu yang sebenarnya sudah ada, tetapi selama ini tidak terlalu kita perhatikan.
Selokan yang tersumbat bukan semata-mata persoalan air. Ia juga bisa menjadi cerita tentang kebiasaan manusia.
Genangan bukan hanya persoalan hujan. Ia dapat menjadi petunjuk tentang bagaimana lingkungan dikelola.
Begitu pula sampah yang hanyut. Ia mungkin hanya benda kecil bagi satu orang, tetapi ketika berkumpul dengan benda-benda kecil lainnya, ia dapat berubah menjadi persoalan yang jauh lebih besar.
Alam kadang tidak perlu memberikan ceramah panjang.
Cukup menurunkan hujan.
Setelah itu, kita sendiri yang membaca akibatnya.
Kemarau Juga Menulis
Menariknya, bukan hanya hujan yang dapat dibaca.
Kemarau juga mempunyai tulisannya sendiri.
Ia menulis melalui tanah yang mengering, daun yang berubah warna, udara yang panas, tanaman yang membutuhkan air, dan kebiasaan manusia yang mulai lebih berhati-hati menggunakan air.
Hanya saja kita sering menganggapnya sebagai keadaan biasa.
Kita baru membaca pesan itu ketika hujan terlambat datang.
Lalu ketika hujan akhirnya turun, kita kembali lupa.
Begitulah manusia.
Kadang-kadang sesuatu baru terasa berharga setelah lama tidak tersedia.
Air adalah salah satunya.
Kita membuka keran, air mengalir, lalu selesai. Karena begitu mudah diperoleh, kita sering lupa bahwa air bukan sesuatu yang muncul begitu saja dari keran.
Hujan pertama setelah kemarau panjang seharusnya membuat kita sedikit lebih peka.
Bukan hanya menikmati basahnya halaman, tetapi juga memikirkan bagaimana air datang, ke mana ia pergi, dan bagaimana kita memperlakukannya.
Hujan sebagai Laboratorium Literasi
Sekolah tidak selalu harus menunggu sebuah tema khusus untuk menjalankan kegiatan literasi.
Kadang-kadang bahan literasi sudah datang sendiri.
Ia bisa datang dalam bentuk hujan.
Dari satu hujan, guru dapat mengajak siswa membaca fenomena. Dari fenomena muncul pertanyaan. Dari pertanyaan muncul pencarian informasi. Dari informasi lahir pemahaman. Dari pemahaman dapat lahir tulisan, data, karya seni, bahkan tindakan sederhana untuk memperbaiki lingkungan.
Di situlah literasi menjadi hidup.
Ia tidak lagi sekadar kegiatan yang berlangsung pada jam tertentu.
Ia menjadi kebiasaan melihat dunia dengan rasa ingin tahu.
Barangkali inilah salah satu cara sekolah membangun budaya literasi: bukan hanya meminta siswa membaca lebih banyak, tetapi mengajak mereka menyadari bahwa ada banyak hal di sekeliling mereka yang sebenarnya sedang meminta untuk dibaca.
Langit Sudah Menulis
Kemarin langit kembali menulis setelah lama berhenti.
Tulisannya tidak menggunakan tinta. Ia menggunakan air.
Tidak ada kertas. Ia menggunakan halaman sekolah.
Tidak ada papan tulis. Ia menggunakan kaca jendela, daun, tanah, atap, dan selokan.
Dan tidak ada guru yang berdiri di depan kelas untuk menjelaskan maknanya.
Kitalah yang harus membaca.
Mungkin tulisan langit kemarin sederhana saja:
Jangan anggap biasa sesuatu yang pernah kalian tunggu.
Hujan tidak menyampaikan kalimat itu melalui suara manusia. Ia menuliskannya di kaca jendela, atap sekolah, halaman, daun, tanah, dan genangan kecil yang mungkin sebentar lagi mengering.
Tugas kita hanyalah membaca.
Sebab sekolah yang literat bukan hanya sekolah yang dipenuhi buku dan orang-orang yang gemar membaca. Sekolah yang literat adalah sekolah yang mampu mengubah apa pun yang terjadi di sekitarnya menjadi kesempatan untuk memahami sesuatu.
Semalam hujan turun.
Hari ini mungkin jejaknya mulai menghilang.
Tetapi semoga pelajarannya tidak ikut mengering.
Langit sudah menulis.
Sekarang, tinggal kita yang menentukan: mau membaca atau sekadar berteduh.
