KETIKA LEBAH MENGAJAR SEKOLAH
Sarang di Ujung Pohon, Pelajaran tentang Risiko, Alam, dan Keselamatan
Oleh: Asifudin HD
Pagi ini sekolah tidak sedang menghadapi ujian. Tidak ada jadwal upacara. Tidak ada pengumuman khusus yang membuat siswa berlarian ke luar kelas. Namun tiba-tiba suasana SMAN 1 Parongpong berubah.
Di ujung sebuah pohon yang berada di pinggiran lapangan olahraga, terdapat sarang lebah. Letaknya cukup dekat dengan ruang kelas XI J yang berada di lantai dua, ruang moving class, dan ruang guru.
Posisi pohon yang berdekatan dengan area aktivitas siswa membuat keberadaan sarang itu tidak bisa dianggap sebagai sesuatu yang biasa.
Lebih-lebih pada saat itu sejumlah siswa sedang berolahraga di lapangan.
Informasi tentang keberadaan sarang lebah segera menyebar. Kelas-kelas yang berada di sekitar lokasi menjadi lebih waspada. Pintu dan jendela ditutup. Siswa yang berada di lapangan bergerak menuju sudut lapangan yang lebih jauh dari pohon. Suasana yang sebelumnya dipenuhi aktivitas berubah menjadi kewaspadaan.
Ada sedikit kepanikan. Ada rasa ingin tahu. Ada pula naluri untuk menjauh dari sesuatu yang belum sepenuhnya dipahami.
Dan barangkali, di situlah pelajaran pertama dimulai.
Ketika kita berhadapan dengan risiko, hal pertama yang perlu dilakukan bukanlah berani mendekat, melainkan mengetahui bagaimana menjaga jarak.
Jangan Menjadi Pahlawan di Depan Sarang Lebah
Dalam situasi seperti itu, rasa ingin tahu manusia memang mudah bekerja lebih cepat daripada pertimbangan keselamatan.
Ada keinginan melihat dari dekat.
Ada yang mungkin ingin mengabadikan peristiwa dengan kamera.
Ada yang penasaran sebesar apa sarangnya.
Ada pula yang mungkin berpikir bahwa sarang tersebut bisa diusir sendiri.
Padahal keberanian dan keselamatan bukan selalu berada di sisi yang sama.
Ketika berhadapan dengan satwa atau serangga yang berpotensi membahayakan, tindakan spontan justru dapat memperbesar risiko. Karena itu, menjauh dari lokasi, menutup akses, dan menyerahkan penanganan kepada pihak yang memiliki pengetahuan serta perlengkapan yang sesuai merupakan tindakan yang jauh lebih masuk akal daripada mencoba menyelesaikannya sendiri.
Di sinilah sekolah memperoleh sebuah pelajaran yang tidak tertulis di papan tulis:
tidak semua masalah harus kita selesaikan dengan tangan sendiri.
Ada saatnya kita harus mengetahui siapa yang memiliki kompetensi untuk menanganinya.
Dan untuk situasi tersebut, SMAN 1 Parongpong mendapatkan bantuan dari Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Bandung Barat.
Ketika DAMKAR Datang Bukan Karena Api
Kehadiran petugas pemadam kebakaran sering kali langsung mengingatkan kita kepada api, asap, kebakaran, atau keadaan darurat lainnya.
Tetapi tugas penyelamatan jauh lebih luas.
Peristiwa sarang lebah di lingkungan sekolah memperlihatkan bahwa petugas pemadam dan penyelamatan juga dapat hadir dalam situasi yang membutuhkan penanganan khusus agar manusia dan lingkungan sama-sama aman.
Petugas datang bukan untuk membuat suasana semakin panik. Justru sebaliknya, kehadiran mereka mengubah kepanikan menjadi prosedur.
Ada jarak yang harus dijaga.
Ada area yang harus diamankan.
Ada pekerjaan yang tidak boleh dilakukan sembarangan.
Ada peralatan yang digunakan.
Ada pengetahuan yang dibutuhkan.
Dan ada satu prinsip sederhana yang berlaku dalam banyak situasi darurat:
keselamatan lebih penting daripada rasa ingin tahu.
Siswa yang sebelumnya hanya melihat sarang lebah sebagai sesuatu yang menghebohkan akhirnya dapat melihat bahwa sebuah persoalan di lingkungan sekolah dapat ditangani melalui kerja sama, kewaspadaan, dan keahlian.
Dari Kepanikan Menjadi Literasi Risiko
Selama ini ketika mendengar kata literasi, kita mungkin langsung membayangkan buku, membaca, menulis, perpustakaan, artikel, atau karya siswa.
Padahal kehidupan sehari-hari juga penuh dengan teks yang harus dibaca.
Tanda bahaya harus dibaca.
Situasi harus dibaca.
Lingkungan harus dibaca.
Risiko harus dibaca.
Bahkan kepanikan pun perlu “dibaca” agar kita tahu kapan harus bertindak dan kapan harus berhenti.
Peristiwa sarang lebah di sekolah sebenarnya dapat menjadi contoh sederhana literasi risiko.
Siswa belajar mengenali situasi yang berpotensi membahayakan.
Mereka belajar membedakan rasa ingin tahu dengan tindakan yang aman.
Mereka belajar mengikuti arahan.
Mereka belajar memahami bahwa keselamatan bersama membutuhkan kedisiplinan individual.
Dan mereka belajar bahwa dalam keadaan tertentu, tindakan paling cerdas justru adalah tidak melakukan apa-apa selain mengikuti prosedur yang tepat.
Ini mungkin terdengar sederhana.
Namun kemampuan seperti itu akan jauh lebih berguna ketika mereka menghadapi situasi nyata di luar sekolah.
Lebah Bukan Musuh
Ada satu hal lain yang menarik dari peristiwa ini.
Kita mudah menyebut sesuatu sebagai ancaman ketika sesuatu itu mengganggu kenyamanan manusia.
Lebah berada di pohon.
Siswa berada di sekolah.
Kemudian kedua ruang itu bertemu.
Masalah muncul.
Tetapi apakah lebah memang datang ke sekolah untuk mengganggu manusia?
Tentu tidak.
Lebah sedang menjalankan kehidupannya.
Ia mencari tempat.
Ia membangun sarang.
Ia bekerja dalam ekosistemnya.
Persoalannya bukan semata-mata tentang siapa yang salah, melainkan ketika ruang hidup makhluk lain berada terlalu dekat dengan ruang aktivitas manusia, bagaimana keduanya dapat ditangani dengan aman?
Pertanyaan ini membuka pintu menuju literasi lingkungan.
Sekolah bukan ruang yang terpisah dari alam. Pohon yang tumbuh di halaman sekolah bukan sekadar penghias. Di sana mungkin ada burung, semut, kupu-kupu, lebah, serangga lain, bahkan berbagai bentuk kehidupan yang tidak selalu kita sadari.
Kadang-kadang kita baru memperhatikan alam ketika alam membuat kita takut.
Padahal seharusnya kita belajar mengenalinya sebelum terjadi masalah.
Pohon yang Selama Ini Hanya Menjadi Latar
Selama ini pohon di pinggir lapangan mungkin hanya dianggap sebagai bagian dari pemandangan sekolah.
Siswa melewatinya.
Guru melihatnya.
Anak-anak berolahraga di dekatnya.
Tidak ada yang terlalu memikirkannya.
Sampai suatu hari seseorang melihat sarang di ujungnya.
Tiba-tiba pohon itu menjadi pusat perhatian.
Peristiwa semacam ini mengingatkan kita bahwa lingkungan sekolah sebenarnya menyimpan begitu banyak bahan pembelajaran.
Satu pohon bisa menjadi objek pengamatan biologi.
Sarang lebah bisa menjadi bahan pembelajaran ekologi.
Peristiwa penanganannya dapat menjadi bahan literasi keselamatan.
Kedatangan petugas dapat menjadi bahan tulisan jurnalistik.
Pengalaman siswa dapat menjadi bahan refleksi.
Bahkan kepanikan yang terjadi dapat menjadi bahan diskusi tentang bagaimana manusia mengambil keputusan ketika menghadapi risiko.
Satu peristiwa. Banyak pintu literasi.
Bagaimana Jika Peristiwa Ini Ditulis Siswa?
Di sinilah saya kira peristiwa ini dapat dikembangkan menjadi kegiatan literasi yang lebih menarik.
Siswa tidak harus selalu diberi tugas:
“Bacalah buku selama 15 menit.”
Sesekali mereka bisa diberi tugas:
“Baca peristiwa yang baru saja terjadi di sekolahmu.”
Kemudian mereka diminta menjawab beberapa pertanyaan:
Apa yang terjadi?
Di mana lokasi kejadiannya?
Mengapa situasi tersebut dianggap berisiko?
Apa yang dilakukan siswa?
Apa yang dilakukan guru?
Mengapa pihak yang memiliki kompetensi perlu dilibatkan?
Apa yang seharusnya tidak dilakukan?
Apa yang kamu pelajari dari peristiwa tersebut?
Bagaimana hubungan manusia dengan lingkungan dalam peristiwa itu?
Dari pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut, siswa dapat mengembangkan berita, laporan pengamatan, esai, infografis keselamatan, poster literasi lingkungan, atau bahkan cerpen yang terinspirasi dari peristiwa nyata.
Dengan demikian, peristiwa bukan sekadar sesuatu yang terjadi. Peristiwa menjadi bahan baku pengetahuan.
Sekolah sebagai Laboratorium Kehidupan
Barangkali inilah salah satu bentuk literasi yang sering kita lewatkan.
Kita terlalu sibuk mencari bahan bacaan di luar sekolah sampai lupa bahwa sekolah sendiri setiap hari menghasilkan cerita.
Siswa terlambat.
Hujan turun.
Pohon tumbang.
Kegiatan olahraga berlangsung.
Ada lomba.
Ada konflik kecil.
Ada karya.
Ada kunjungan.
Ada sarang lebah.
Semuanya dapat menjadi bahan belajar apabila kita memiliki kebiasaan bertanya.
Apa yang terjadi?
Mengapa terjadi?
Apa yang dapat dipelajari?
Bagaimana kita menceritakannya kembali?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang mengubah kejadian sehari-hari menjadi literasi.
Sarang lebah di ujung pohon akhirnya bukan hanya sebuah gangguan yang membuat siswa menutup pintu dan jendela.
Ia menjadi sebuah teks kehidupan.
Ia mengajarkan kewaspadaan.
Ia memperkenalkan kerja penyelamatan.
Ia mengingatkan kita tentang hubungan manusia dengan lingkungan.
Ia memperlihatkan pentingnya prosedur.
Dan ia memberi kesempatan kepada sekolah untuk belajar bahwa keselamatan tidak pernah boleh dianggap sebagai sesuatu yang sepele.
Lebah Pergi,
Pelajarannya Tinggal
Setelah petugas menyelesaikan tugasnya, suasana sekolah perlahan kembali normal. Siswa kembali beraktivitas. Lapangan kembali menjadi lapangan. Ruang kelas kembali menjadi ruang kelas. Pohon itu mungkin kembali terlihat seperti pohon biasa.
Tetapi mudah-mudahan ada sesuatu yang tidak kembali menjadi biasa.
Cara kita melihat lingkungan.
Cara kita menghadapi risiko.
Cara kita merespons keadaan darurat.
Dan cara kita memahami literasi.
Sebab literasi tidak selalu datang dalam bentuk buku yang dibuka di atas meja.
Kadang ia datang dalam bentuk seekor lebah yang membangun sarang di ujung pohon.
Kadang ia datang bersama petugas penyelamat.
Kadang ia datang ketika seluruh kelas tiba-tiba menutup jendela.
Dan kadang ia hadir dalam satu pertanyaan sederhana:
“Apa yang sebenarnya sedang diajarkan oleh peristiwa ini kepada kita?”
Hari itu, sekolah tidak hanya belajar tentang lebah.
Sekolah belajar tentang keselamatan, lingkungan, kewaspadaan, kerja sama, dan cara membaca sebuah peristiwa.
Mungkin itulah hakikat literasi yang paling dekat dengan kehidupan: bukan sekadar mampu membaca tulisan, tetapi mampu membaca apa yang sedang terjadi di sekitar kita.
Dan hari ini, sebelum buku dibuka, sebelum tugas diberikan, bahkan sebelum peristiwa tersebut selesai, sebuah pelajaran sudah lebih dahulu ditulis oleh kehidupan di halaman sekolah.
Judulnya: Ketika Lebah Mengajar Sekolah.
