KETIKA LITERASI DIAJAK SENAM
Apa Hubungan Gerak, Musik, dan Literasi?
Oleh: Asifudin HD
Pukul 06.30. Siswa kelas X mulai berkumpul. Musik terdengar. Tubuh bergerak mengikuti irama. Tangan ke kanan, ke kiri, langkah kaki mengikuti hitungan, sesekali terdengar suara instruksi dari depan. Lagu-lagu yang sudah akrab di telinga membuat sebagian siswa tidak terlalu membutuhkan banyak aba-aba. Senam pagi berlangsung meriah.
Tidak ada yang salah dengan senam. Tubuh memang perlu bergerak. Siswa membutuhkan kebugaran. Sekolah juga tidak hanya berkepentingan membuat anak-anak pandai membaca buku, tetapi juga sehat dan mampu menjalani aktivitas dengan tubuh yang bugar.
Namun ada satu pertanyaan yang kemudian muncul: mengapa kegiatan yang diberi ruang pukul 06.30–08.00 disebut kegiatan literasi jika sebagian besar waktunya diisi senam?
Pertanyaan itu bukan untuk mencari siapa yang salah. Justru sebaliknya, pertanyaan tersebut penting karena memaksa kita memeriksa kembali sesuatu yang selama ini mungkin terlalu mudah kita sebut sebagai literasi.
Apakah setiap kegiatan yang dilakukan pada jam literasi otomatis menjadi kegiatan literasi?
Atau, jangan-jangan kita masih membutuhkan definisi yang lebih luas sekaligus lebih tajam tentang apa itu literasi?
Literasi Tidak Harus Selalu Duduk Membaca
Ada kekeliruan lama yang masih mudah kita jumpai: literasi dianggap identik dengan membaca buku. Ketika siswa duduk dengan buku, kita merasa kegiatan literasi sedang berlangsung. Ketika siswa tidak memegang buku, kita mulai ragu apakah itu literasi.
Padahal dunia yang dibaca manusia jauh lebih luas daripada halaman buku.
Kita membaca teks, tetapi juga membaca gambar, angka, suara, gerak, lingkungan, informasi digital, iklan, musik, data, bahkan situasi sosial. Anak-anak hidup dalam dunia yang menuntut mereka mampu memahami begitu banyak bentuk pesan.
Karena itu, memperluas makna literasi adalah sesuatu yang penting.
Tetapi ada jebakan lain setelah kita memperluas pengertian tersebut: semua kegiatan kemudian bisa disebut literasi.
Senam disebut literasi.
Menonton disebut literasi.
Bermain disebut literasi.
Bernyanyi disebut literasi.
Bahkan mungkin makan bersama pun suatu hari bisa disebut literasi.
Kalau semuanya literasi, lalu apa yang membuat sebuah kegiatan benar-benar layak disebut kegiatan literasi?
Di sinilah kita membutuhkan pembeda.
Bukan nama kegiatannya yang menentukan literasi, melainkan proses belajar yang terjadi di dalamnya.
Lalu Apa Hubungan Senam dengan Literasi?
Sekarang kita kembali kepada senam.
Apakah senam dapat menjadi bagian dari literasi?
Bisa.
Tetapi senamnya tidak cukup hanya dilakukan.
Misalnya, siswa melakukan senam dengan mengikuti sebuah instruksi. Setelah itu mereka membaca informasi mengenai manfaat aktivitas fisik bagi kesehatan, kemudian mencatat jenis gerakan yang dilakukan, menghitung durasi, membandingkan denyut nadi sebelum dan sesudah aktivitas, mendiskusikan perubahan yang dirasakan tubuh, lalu menulis refleksi atau membuat infografis kesehatan.
Di situ terdapat aktivitas membaca, memahami informasi, mengolah data, mengomunikasikan gagasan, dan menghasilkan sesuatu.
Senam menjadi konteks literasinya.
Musik yang digunakan juga dapat dibaca. Siswa dapat mencari tahu dari mana sebuah lagu berasal, bagaimana sejarahnya, mengapa lagu tertentu digunakan dalam senam, bagaimana musik membentuk gerakan, atau bagaimana sebuah lagu dapat menjadi bagian dari budaya masyarakat.
Poco-poco, misalnya, bukan hanya rangkaian gerak yang dilakukan berulang-ulang mengikuti musik. Ia dapat menjadi pintu masuk untuk membaca kebudayaan, sejarah, musik, bahasa, bahkan identitas sosial.
Dengan pendekatan seperti itu, tubuh bergerak, tetapi pikiran juga bekerja.
Itulah perbedaannya.
Kalau Hanya Senam?
Sekarang kita berani mengajukan pertanyaan yang lebih sulit.
Bagaimana jika selama 90 menit siswa hanya mengikuti senam?
Tidak membaca informasi.
Tidak mengamati.
Tidak mencatat.
Tidak berdiskusi.
Tidak merefleksikan pengalaman.
Tidak mengolah informasi.
Tidak ada tugas lanjutan.
Tidak ada komunikasi gagasan.
Tidak ada karya atau bukti proses belajar yang berkaitan dengan literasi.
Dalam kondisi seperti itu, menurut saya, kita perlu jujur menyebutnya sebagai kegiatan senam atau kebugaran, bukan memaksanya menjadi kegiatan literasi hanya karena ditempatkan pada jadwal literasi.
Dan kejujuran semacam ini justru sehat bagi gerakan literasi sekolah.
Sebab literasi tidak akan menjadi kuat kalau semua aktivitas diberi label literasi tanpa memeriksa proses di dalamnya.
Kita tidak perlu merasa bersalah mengatakan, “Ini kegiatan kebugaran.”
Justru dari pengakuan itu kita bisa bertanya: bagaimana kegiatan kebugaran ini kita hubungkan dengan literasi?
Pertanyaan kedua jauh lebih produktif daripada sekadar memperdebatkan apakah senam boleh atau tidak boleh masuk kegiatan literasi.
Apakah Tim Literasi Kehabisan Ide?
Pertanyaan semacam ini mungkin muncul di kepala sebagian orang.
“Jangan-jangan tim literasi kehabisan ide?”
Bisa jadi.
Tetapi kita tidak tahu.
Dan sebaiknya kita tidak buru-buru menyimpulkan demikian.
Mungkin senam memang dirancang sebagai jeda setelah kegiatan literasi sebelumnya. Mungkin ada pertimbangan kebugaran. Mungkin sekolah sedang mencoba mengembangkan bentuk literasi yang lebih luas. Mungkin pula desain kegiatannya memang belum sampai pada tahap menghubungkan aktivitas fisik dengan tujuan literasi.
Daripada menuduh kehabisan ide, lebih baik kita mengajukan pertanyaan desain:
Apa tujuan literasinya?
Apa yang dilakukan siswa selama kegiatan?
Apa yang dipelajari?
Apa informasi yang mereka olah?
Apa yang berubah setelah kegiatan?
Dan yang tidak kalah penting:
Apa yang bisa kita lihat sebagai bukti bahwa proses literasi benar-benar terjadi?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat menjadi cermin bagi siapa pun yang mengelola program literasi, termasuk saya sendiri.
Sebab mengelola literasi memang tidak mudah. Kita bisa kehabisan ide. Kita bisa mengulang kegiatan yang sama. Kita bisa terjebak pada rutinitas. Itu manusiawi.
Yang berbahaya bukan kehabisan ide.
Yang lebih berbahaya adalah berhenti bertanya apakah kegiatan yang kita lakukan masih memiliki makna.
Haruskah Literasi Selalu Menghasilkan Karya?
Ini juga pertanyaan penting.
Apakah setiap kegiatan literasi harus menghasilkan poster, puisi, artikel, cerpen, video, infografis, mading, atau produk lainnya?
Tidak harus.
Literasi bukan pabrik karya.
Kalau setiap kegiatan harus menghasilkan produk, siswa bisa mengalami kelelahan produksi. Akhirnya literasi berubah menjadi pekerjaan membuat sesuatu demi dokumentasi.
Padahal ada kegiatan membaca yang memang tujuannya memahami.
Ada kegiatan berdiskusi yang tujuannya mempertajam pikiran.
Ada kegiatan mengamati yang tujuannya melatih kepekaan.
Ada kegiatan mendengarkan yang tujuannya memahami informasi.
Ada kegiatan membaca yang hasil akhirnya mungkin hanya sebuah pertanyaan yang lebih baik daripada pertanyaan sebelum membaca.
Itu pun merupakan hasil literasi.
Namun, bukan berarti kegiatan literasi tidak membutuhkan bukti.
Tidak semua literasi harus menghasilkan produk, tetapi setiap kegiatan literasi sebaiknya memiliki tujuan dan meninggalkan jejak belajar.
Jejak itu bisa sangat sederhana.
Satu paragraf refleksi.
Lima pertanyaan.
Satu kesimpulan.
Catatan hasil pengamatan.
Tabel data.
Rekaman diskusi.
Presentasi singkat.
Peta konsep.
Daftar kosakata baru.
Sebuah kritik.
Atau bahkan sebuah pertanyaan yang membuat guru ikut berpikir.
Produk literasi tidak selalu harus menjadi benda yang dipajang di dinding.
Dari Senam Menuju Literasi
Bayangkan jika 90 menit kegiatan pagi itu dirancang sedikit berbeda.
Pukul 06.30 siswa melakukan senam.
Setelah tubuh bergerak dan napas mulai teratur, siswa diberi waktu mengamati pengalaman tubuhnya sendiri.
Bagaimana kondisi sebelum senam?
Bagaimana setelah senam?
Apa yang berubah?
Mengapa jantung berdetak lebih cepat?
Apa hubungan aktivitas fisik dengan konsentrasi belajar?
Siswa kemudian membaca satu artikel pendek tentang kesehatan dan aktivitas fisik. Mereka menemukan informasi penting, mencatat istilah baru, membandingkan informasi dengan pengalaman mereka, kemudian menulis refleksi singkat.
Satu kegiatan sederhana tiba-tiba membuka banyak pintu.
Biologi masuk.
Bahasa masuk.
Pendidikan jasmani masuk.
Numerasi masuk.
Literasi informasi masuk.
Bahkan literasi kesehatan masuk.
Senam tidak kehilangan identitasnya sebagai senam. Ia justru memperoleh lapisan pembelajaran baru.
Inilah yang menurut saya lebih menarik: bukan mengubah semua kegiatan menjadi literasi, tetapi menemukan dimensi literasi di dalam kegiatan yang memang sudah dilakukan.
Literasi yang Menghasilkan Pertanyaan
Kita mungkin terlalu terobsesi dengan hasil berupa karya.
Padahal salah satu tanda seseorang mulai berliterasi adalah munculnya pertanyaan.
Mengapa kita melakukan gerakan ini?
Mengapa lagu ini digunakan?
Dari mana lagu poco-poco berasal?
Apa manfaat gerakan tertentu?
Mengapa setelah berolahraga kita merasa lebih segar?
Apakah olahraga selalu membuat konsentrasi meningkat?
Berapa menit aktivitas fisik yang dibutuhkan tubuh?
Apakah semua informasi tentang kesehatan di internet dapat dipercaya?
Pertanyaan-pertanyaan itu dapat menjadi pintu masuk menuju literasi yang jauh lebih luas.
Jadi, jangan hanya bertanya, “Apa produknya?”
Sesekali tanyakan:
“Pertanyaan baru apa yang lahir dari kegiatan ini?”
Sebab manusia yang literat bukan hanya manusia yang mampu menghasilkan banyak karya. Ia juga manusia yang mampu mempertanyakan informasi, memahami konteks, mencari bukti, dan tidak mudah menerima sesuatu hanya karena sudah dilakukan berulang-ulang.
Jangan Takut Mengevaluasi Literasi
Program literasi sekolah membutuhkan keberanian untuk dievaluasi.
Bukan karena programnya gagal.
Justru karena program itu penting.
Kegiatan yang sudah berlangsung lama kadang menjadi terlalu akrab sehingga tidak lagi dipertanyakan. Kita melakukan karena tahun lalu juga melakukan. Kita mengulang karena tahun sebelumnya berhasil. Kita menyusun jadwal karena sudah menjadi kebiasaan.
Padahal siswa berubah.
Zaman berubah.
Cara anak memperoleh informasi berubah.
Cara mereka membaca berubah.
Tantangan literasi berubah.
Maka kegiatan literasi juga perlu berani berubah.
Bukan berarti setiap minggu harus membuat kegiatan baru. Yang diperlukan bukan kebaruan demi kebaruan, melainkan makna yang terus diperiksa.
Termasuk ketika literasi bertemu senam.
Mungkin bukan senamnya yang harus dihilangkan.
Mungkin yang perlu diperbaiki adalah cara kita merancang hubungan antara senam dan literasi.
Literasi Tidak Harus Duduk Diam
Barangkali sudah waktunya kita berhenti membayangkan manusia literat sebagai seseorang yang selalu duduk diam dengan buku terbuka di hadapannya.
Manusia literat bisa sedang berjalan.
Bisa sedang mengamati.
Bisa sedang berbicara.
Bisa sedang bergerak.
Bisa sedang mendengarkan musik.
Bisa sedang menghitung denyut nadi.
Bisa sedang membaca data.
Bisa sedang mempertanyakan sebuah informasi.
Bisa sedang menulis.
Bisa pula sedang mengajak tubuhnya sehat agar pikirannya siap belajar.
Tetapi satu hal tidak boleh hilang: kesadaran untuk membaca pengalaman dan mengolahnya menjadi pengetahuan.
Di situlah senam dapat bertemu dengan literasi.
Bukan karena semua gerakan otomatis menjadi literasi, tetapi karena dari gerakan itu siswa dapat diajak membaca sesuatu.
Tubuh dibiasakan bergerak.
Pikiran dibiasakan bertanya.
Informasi dibiasakan diperiksa.
Pengalaman dibiasakan direfleksikan.
Dan jika pada akhirnya lahir sebuah karya, biarlah karya itu menjadi konsekuensi dari proses belajar, bukan satu-satunya alasan mengapa literasi diselenggarakan.
Sebab literasi bukan perlombaan menghasilkan sebanyak-banyaknya produk.
Literasi adalah kebiasaan manusia untuk membaca dunia sebelum mengambil sikap terhadapnya.
Kalau begitu, mungkin pertanyaan kita tentang senam pagi tidak perlu berhenti pada:
“Apa hubungannya senam dengan literasi?”
Kita bisa mengubahnya menjadi pertanyaan yang lebih produktif:
“Apa yang dapat dibaca siswa dari tubuh yang bergerak?”
Dan dari pertanyaan itu, kegiatan literasi mungkin justru menemukan gerakan barunya.