Ketika Salah Dengar Menjadi Bahasa
Oleh: Asifudin HD
Bahasa Indonesia tidak lahir dari satu sumber bahasa, juga tidak tumbuh dalam ruang yang steril. Ia berkembang melalui perjumpaan panjang antarmanusia, antardaerah, dan antarbudaya. Bahasa Melayu sebagai dasar bahasa Indonesia menerima pengaruh dari berbagai bahasa, termasuk Arab, Portugis, Belanda, Inggris, Sanskerta, serta bahasa-bahasa daerah di Nusantara.
Dalam proses perjumpaan itu, kata-kata tidak selalu berpindah dengan cara yang rapi. Ada yang diserap melalui perdagangan, agama, pendidikan, pemerintahan, dan kehidupan sehari-hari. Ada pula kisah tentang kata yang berubah karena salah dengar, salah tangkap, atau karena sebuah bunyi asing kemudian disesuaikan dengan lidah masyarakat setempat.
Kisah-kisah semacam itu menarik karena menunjukkan bahwa bahasa bukan sekadar kumpulan kata dalam kamus. Bahasa hidup di mulut manusia. Ia berpindah dari satu orang ke orang lain, mengalami perubahan bunyi, perubahan makna, bahkan kadang-kadang memperoleh cerita baru di tengah masyarakat.
Salah satu contoh yang sering diceritakan adalah kata “odading”.
Odading: “O, dat ding?”
Odading merupakan penganan berupa adonan tepung yang digoreng dan dikenal luas di Jawa Barat. Asal-usul namanya memiliki cerita yang sangat menarik. Dalam buku 9 dari 10 Kata Bahasa Indonesia adalah Asing, Alif Danya Munsyi menceritakan kisah tentang seorang anak Belanda yang meminta ibunya membelikan kue yang dijual oleh pedagang pribumi.
Sang ibu kemudian meminta pedagang tersebut memperlihatkan kue yang dimaksud. Ketika melihat kue itu, perempuan Belanda tersebut konon berkata, “O, dat ding?”, yang kurang lebih berarti “Oh, benda itu?” atau “Oh, barang itu?”
Ucapan tersebut kemudian terdengar oleh si penjual sebagai sebuah nama. Ia pulang dan menceritakan bahwa kue yang selama ini dijualnya bernama “odading”. Cerita itu kemudian berkembang sebagai kisah asal-usul nama odading. Kisah yang sama juga dimuat dalam sejumlah tulisan populer mengenai sejarah kuliner Bandung. �
detikfood +1
Apakah peristiwa tersebut benar-benar terjadi persis seperti dalam cerita? Tidak mudah memastikannya. Karena itu, kisah tersebut lebih tepat disebut sebagai cerita populer tentang asal-usul kata, bukan fakta etimologis yang sudah terbukti secara pasti.
Namun, justru di situlah menariknya. Sebuah ucapan yang sebenarnya bukan nama makanan dapat, melalui proses salah tangkap, berubah menjadi nama yang bertahan sampai sekarang.
Roti: Bunyi yang Menyeberang
Kata “roti” juga kerap dikaitkan dengan pengaruh bahasa asing. Salah satu penjelasan populer menghubungkannya dengan bahasa Belanda brood, yang berarti roti. Ada pula kisah bahwa penjaja makanan di Batavia mengucapkan bunyi tertentu ketika menjajakan dagangannya sehingga bunyi brood kemudian terdengar dan diadaptasi menjadi “roti”.
Narabahasa mencatat kisah bahwa kata roti pernah dikaitkan dengan brood dalam bahasa Belanda dan proses perubahan bunyi dalam pemakaian masyarakat. Ketika penjualnya menambahkan akhiran i menjadi broodi. Sumber tersebut juga menegaskan bahwa asal-usul kata ini pernah dijelaskan dengan beberapa kemungkinan, sehingga tidak tepat jika satu cerita langsung dianggap sebagai satu-satunya etimologi yang pasti. �
Nara Bahasa
Hal ini memperlihatkan satu hal penting: ketika sebuah kata berpindah dari satu bahasa ke bahasa lain, bentuk bunyinya dapat berubah agar lebih mudah diucapkan oleh penutur bahasa penerima.
Dengan kata lain, bahasa tidak sekadar meminjam kata. Bahasa juga mengolah kata yang dipinjamnya.
Kodak: Ketika Merek Menjadi Nama Benda
Pernahkah kita mendengar orang tua mengatakan, “Bawa kodak,” padahal yang dimaksud sebenarnya adalah kamera?
Fenomena itu pernah terjadi dalam penggunaan bahasa Indonesia. Kata “kodak” sempat digunakan secara umum untuk menyebut kamera foto, bukan semata-mata untuk menyebut produk bermerek Kodak.
Sebuah kajian mengenai praktik fotografi di Indonesia mencatat bahwa sebutan “kodak” pernah sangat umum digunakan untuk kamera karena popularitas kamera dan film merek Kodak. Bahkan ketika merek lain mulai digunakan, kebiasaan menyebut kamera sebagai “kodak” masih bertahan dalam sebagian masyarakat. Fenomena seperti ini dapat dibandingkan dengan penggunaan nama merek tertentu untuk menyebut jenis benda secara umum. �
Lumbung Books
Istilah “Mat Kodak” juga pernah dikenal dalam dunia fotografi Indonesia. Perpustakaan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mencatat buku Mat Kodak: Melihat untuk Sejuta Mata karya Ed Zoelverdi yang terbit pada 1985. ANTARA juga mencatat bahwa Ed Zoelverdi dikenal dengan sebutan Mat Kodak. �
LIBSENBUD +1
Kasus ini sedikit berbeda dari “odading”. Jika odading dikisahkan lahir dari salah dengar sebuah kalimat, “kodak” lebih menunjukkan bagaimana nama sebuah merek dapat bergeser menjadi sebutan umum dalam kehidupan sehari-hari.
Bahasa masyarakat sering kali lebih cepat daripada kamus.
Minggu: Jejak Bahasa Portugis
Kata “Minggu” memiliki jejak sejarah yang lebih kuat secara kebahasaan. Kata ini berasal dari bahasa Portugis Domingo. Kata Portugis tersebut berakar dari bahasa Latin Dominicus, yang berkaitan dengan “hari Tuhan”.
Dalam Senarai Kata Serapan dalam Bahasa Indonesia, Badan Bahasa mencatat Minggu — domingo — Ahad sebagai salah satu kata serapan dari bahasa Portugis. �
Repositori Kemendikdasmen
Penjelasan mengenai asal kata ini juga terdapat dalam sejumlah sumber kebahasaan dan sejarah. Detik, misalnya, menjelaskan bahwa Domingo diserap ke dalam bahasa Melayu dan Indonesia menjadi “Minggu”. �
detiknews
Menariknya, bahasa Indonesia sebenarnya juga mengenal kata Ahad untuk menyebut hari pertama dalam sepekan. Kata “Ahad” berasal dari bahasa Arab. Dengan demikian, keberadaan kata “Minggu” dan “Ahad” memperlihatkan bagaimana dua jalur kebudayaan berbeda dapat hidup berdampingan dalam satu bahasa.
Satu hari, dua jejak sejarah.
Cinta: Ketika Bunyi Mendapat Cerita Baru
Kata “cinta” juga sering dimasukkan ke dalam daftar kata yang memiliki kisah perubahan persepsi. Dalam cerita populer yang beredar, kata tersebut dikaitkan dengan kata dari bahasa Portugis yang berhubungan dengan pita atau ikatan.
Dalam kisah tersebut, penggunaan kata itu kemudian dikaitkan dengan ungkapan kasih sayang sehingga mengalami perubahan fungsi dan makna dalam masyarakat Nusantara.
Namun, bagian ini perlu dibaca dengan lebih hati-hati. Berbeda dengan kata “Minggu” yang memiliki dokumentasi kuat dalam daftar kata serapan Badan Bahasa, kisah populer mengenai asal-usul “cinta” melalui salah persepsi tidak memiliki dasar dokumentasi yang sama kuat dalam sumber kebahasaan yang mudah diverifikasi.
Karena itu, kisah tersebut lebih aman ditempatkan sebagai cerita etimologis populer, bukan sebagai fakta yang sudah pasti.
Di sinilah kita perlu belajar bahwa cerita menarik tentang bahasa belum tentu sama dengan sejarah bahasa yang telah terbukti secara ilmiah.
Gedang: “God dank” yang Terdengar Berbeda
Ada pula kisah tentang kata “gedang” dalam bahasa Jawa.
Konon, pada masa Perang Diponegoro, sekelompok tentara Belanda mengalami kekurangan makanan. Mereka kemudian menemukan kebun pisang. Karena gembira mendapatkan makanan, mereka mengucapkan bahasa Belanda “God dank”, yang berarti “terima kasih Tuhan”.
Oleh masyarakat setempat, bunyi tersebut konon terdengar seperti “gedang”. Kata itu kemudian dikaitkan dengan penyebutan pisang dalam bahasa Jawa.
Kisah tersebut memang beredar luas. Salah satu tulisan sejarah populer mengenai asal-usul kata gedang mengisahkan peristiwa tersebut dalam konteks Perang Diponegoro. �
merdeka.com
Tetapi sekali lagi, kata “konon” menjadi penting. Cerita seperti ini menarik untuk dibaca sebagai bagian dari folklore kebahasaan, tetapi tidak seharusnya langsung diperlakukan sebagai bukti etimologi tanpa dukungan kajian sejarah bahasa yang lebih kuat.
Justru dari sini kita dapat melihat bagaimana masyarakat menciptakan cerita untuk menjelaskan hubungan antara bunyi yang terdengar asing dengan kata yang sudah akrab di telinga mereka.
Holopis Kuntul Baris: Dari Nama Menjadi Semboyan
Yang tidak kalah menarik adalah ungkapan “holopis kuntul baris”.
Ungkapan ini pernah dipopulerkan oleh Bung Karno sebagai seruan yang berkaitan dengan semangat kebersamaan dan gotong royong. Dalam salah satu kajian akademik mengenai gotong royong, “holopis kuntul baris” disebut sebagai ungkapan yang dipopulerkan Bung Karno untuk menyemangati masyarakat agar bekerja bersama menghadapi persoalan besar. �
E-Journal Janabadra
Ada pula cerita populer mengenai asal-usul ungkapan tersebut. Cerita itu menghubungkannya dengan nama seorang mandor yang disebut Don Lopez Comte du Paris pada masa Daendels. Nama tersebut, menurut cerita yang beredar, kemudian terdengar dan diucapkan oleh pekerja pribumi sebagai “holopis kuntul baris”. �
E-Journal Janabadra
Menariknya, penelitian yang terbit dalam Language, Area and Culture Studies pada 2026 juga mencatat cerita mengenai hubungan “holopis kuntul baris” dengan nama Don Lopez Comte du Paris dan penggunaannya sebagai seruan pada masa Daendels, sambil menempatkannya sebagai penjelasan historis yang berkembang mengenai ungkapan tersebut. �
TUFS Repository
Apa pun asal-usul historisnya, perjalanan ungkapan ini menunjukkan sesuatu yang lebih besar: sebuah bunyi dapat memperoleh kehidupan baru ketika masuk ke dalam kebudayaan masyarakat penerimanya.
Nama seseorang bisa berubah menjadi semboyan. Semboyan kemudian menjadi bagian dari ingatan sosial.
Bahasa Tidak Selalu Tumbuh Secara Rapi
Dari odading, roti, kodak, Minggu, cinta, gedang, hingga holopis kuntul baris, kita menemukan satu pola menarik: bahasa berkembang melalui perjumpaan.
Ada kata yang benar-benar dapat ditelusuri sejarah serapannya. Ada yang berkembang melalui perubahan pemakaian. Ada pula yang memiliki cerita rakyat atau kisah populer yang sulit dibuktikan secara historis.
Karena itu, tidak semua cerita tentang asal-usul kata boleh diterima begitu saja sebagai fakta.
Bahasa memiliki wilayah yang dapat diteliti dengan kamus, arsip, naskah, dan perbandingan bahasa. Namun, bahasa juga memiliki wilayah yang hidup dalam ingatan masyarakat: cerita dari mulut ke mulut, lelucon, salah dengar, plesetan, dan kebiasaan sehari-hari.
Keduanya sama-sama menarik, tetapi keduanya tidak boleh dicampuradukkan.
Satu hal yang dapat kita pelajari adalah bahwa perubahan bahasa sering terjadi karena manusia menggunakan bahasa secara kreatif. Ketika seseorang mendengar bunyi asing, ia akan mencari bunyi yang paling dekat dengan sistem bahasa yang dikenalnya. Ketika sebuah merek terlalu populer, namanya dapat digunakan untuk menyebut seluruh jenis benda. Ketika sebuah kata asing masuk melalui agama atau perdagangan, masyarakat dapat mengubah bunyinya agar lebih sesuai dengan lidah mereka.
Bahasa akhirnya menjadi semacam arsip kehidupan.
Di dalam satu kata, kadang tersimpan jejak perdagangan. Di kata lain terdapat bekas kolonialisme. Di tempat lain ada pengaruh agama, teknologi, makanan, fotografi, atau kebiasaan masyarakat.
Maka, ketika kita mengatakan “Minggu”, sebenarnya kita sedang mengucapkan sebuah kata yang memiliki perjalanan lintas bahasa.
Ketika mengatakan “kodak”, kita sedang mengingat bagaimana sebuah merek pernah begitu kuat memengaruhi cara masyarakat menyebut kamera.
Ketika menikmati odading, kita tidak hanya sedang menikmati makanan, tetapi juga berhadapan dengan sebuah kisah perjumpaan bahasa Belanda dan bahasa masyarakat Sunda.
Dan ketika mendengar “holopis kuntul baris”, kita menemukan bagaimana sebuah ungkapan dapat bergerak dari cerita sejarah dan folklore menjadi bagian dari bahasa kebudayaan Indonesia.
Bahasa Indonesia, dengan demikian, bukan bahasa yang selesai dibentuk lalu tinggal digunakan. Ia terus bergerak. Ia menyerap, mengubah, menyesuaikan, bahkan kadang-kadang salah mendengar.
Dan mungkin justru di situlah keindahannya.
Bahasa tidak selalu lahir dari ketepatan. Kadang-kadang ia lahir dari pertemuan, salah dengar, kebiasaan, dan kreativitas manusia dalam memberi nama kepada dunia.
Sumber Bacaan:
Munsyi, Alif Danya. Bahasa Menunjukkan Bangsa. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2005. Buku ini membahas bahasa Indonesia dalam kaitannya dengan perkembangan kebudayaan dan berbagai pengaruh bahasa asing. �
Google Buku +1
Munsyi, Alif Danya. 9 dari 10 Kata Bahasa Indonesia adalah Asing. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2003. Buku ini menjadi rujukan yang banyak digunakan dalam pembahasan populer mengenai asal-usul kata, termasuk kisah odading. �
Kompas
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Senarai Kata Serapan dalam Bahasa Indonesia. Dokumen ini mencatat sejumlah kata serapan dari berbagai bahasa, termasuk “Minggu” dari Portugis domingo. �
Repositori Kemendikdasmen
Permana, Rakhmad Hidayatulloh. “Asal Mula Kata Hari Minggu.” detikNews, 7 Mei 2021. �
detiknews
“Asal-usul Nama Odading, Berawal dari Celetukan Orang Belanda.” Kompas.com, 20 September 2020. �
Kompas
“Cerita Unik Asal-usul Nama Odading dari Bahasa Belanda: ‘O, dat ding’!” detikFood, 18 Agustus 2025. �
detikfood
“Warisan Belanda: Kosakata, Nama Makanan, dan Laras Hukum.” Narabahasa. Artikel ini juga membahas sejumlah kosakata yang dikaitkan dengan pengaruh bahasa Belanda, termasuk brood dan odading. �
Nara Bahasa
“Mat Kodak: Melihat untuk Sejuta Mata.” Perpustakaan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, katalog buku fotografi karya Ed Zoelverdi. �
LIBSENBUD
“Holopis Kuntul Baris.” Kajian dalam Jurnal Pertanian Agros, Vol. 25 No. 1, 2023, yang membahas penggunaan ungkapan tersebut sebagai seruan gotong royong serta mencatat cerita populer mengenai asal-usulnya. �
