Pagi itu, aku datang lebih awal ke sekolah. Saat masuk kelas, aku melihat kursi kosong di sudut ruangan bergeser dari tempat semula. Di atasnya terdapat sebuah buku tulis berwarna biru.
Aku bertanya kepada Rani, teman sebangkuku.
“Ran, siapa yang menaruh buku di kursi itu?”
Rani menoleh sebentar, lalu menjawab, “Enggak tahu. Dari kemarin juga kursi itu sering ada bukunya.”
Aku semakin penasaran. Selama beberapa hari, aku memperhatikan kursi tersebut. Anehnya, setiap pagi selalu ada benda berbeda di atasnya. Kadang buku, kadang pensil, dan kadang selembar kertas kecil.
Pada suatu pagi, aku menemukan secarik kertas bertuliskan, “Tolong jangan pindahkan kursi ini.”
Aku langsung menunjukkan kertas itu kepada Rani.
“Jangan-jangan ada yang sengaja mengerjai kita,” katanya.
Sepulang sekolah, aku memutuskan menyembunyikan diri di dalam kelas untuk mencari tahu siapa yang selalu meletakkan benda-benda itu. Tak lama kemudian, Pak Dedi, guru Bahasa Indonesia kami, masuk sambil membawa sebuah foto lama.
Beliau menghampiri kursi kosong itu dan meletakkan foto di atasnya.
Aku keluar dari tempat persembunyian. “Pak, sebenarnya kursi itu untuk siapa?”
Pak Dedi terkejut melihatku. Setelah diam beberapa saat, beliau menjelaskan bahwa kursi itu dahulu ditempati seorang siswa bernama Arga. Ia dikenal rajin menulis cerita, tetapi harus pindah sekolah sebelum sempat membacakan karya terakhirnya di depan kelas.
“Buku-buku itu Bapak letakkan di sini,” jelasnya. “Bapak sedang mengumpulkan tulisan-tulisan Arga untuk dijadikan buku kenangan kelas.”
Aku menghela napas lega. Ternyata tidak ada hal menyeramkan seperti yang kubayangkan.
Namun, saat aku hendak keluar, mataku tertuju pada foto yang baru saja diletakkan Pak Dedi. Di balik foto itu terdapat tulisan tangan yang sangat kukenal.
“Terima kasih sudah menjaga kursiku. Sekarang, giliranmu menulis cerita.”
Aku terdiam. Tulisan itu sama persis dengan tulisan di kertas yang kutemukan pagi tadi.
Aku menoleh kepada Pak Dedi, tetapi beliau tampak kebingungan.
“Bapak belum pernah menulis pesan itu,” katanya.
Sejak hari itu, kursi tersebut tidak pernah lagi kuganggu. Aku mulai menulis cerita, tetapi satu pertanyaan masih tertinggal di pikiranku: jika bukan Pak Dedi yang menulis pesan itu, lalu siapa?