Nama: Velove jermaine
Kelas: XI-J
Lima Pertanyaan Hasil Pengamatan
Yang diamati: Sebuah kursi di dalam kelas yang selalu kosong.
1. Mengapa kursi itu selalu dibiarkan kosong?
2. Siapa yang biasanya duduk di kursi tersebut?
3. Mengapa tidak ada yang berani menggunakannya?
4. Apakah pemilik kursi itu masih berada di sekolah?
5. Apa yang sebenarnya terjadi pada kursi tersebut?
“Semua orang mengira…, padahal…”
Semua orang mengira kursi itu kosong karena tidak ada yang ingin duduk di sana.
Padahal sebenarnya, kursi itu sengaja dibiarkan kosong karena seseorang masih berharap pemiliknya akan kembali.
Fiksi Mini — Kursi yang Selalu Kosong
Ada satu kursi di pojok kelas yang selalu kosong.
Bukan karena rusak. Bukan juga karena tidak nyaman. Bahkan, kursi itu justru terlihat paling rapi dibandingkan meja lainnya.
“Kenapa nggak pernah ada yang duduk di situ?” tanya Velove suatu siang.
Rani mengangkat bahu. “Katanya jangan.”
“Jangan kenapa?”
“Nggak tahu. Dari awal semester memang begitu.”
Velove merasa penasaran. Ketika kelas mulai sepi, ia mendekati kursi tersebut. Di bawah mejanya terdapat sebuah goresan kecil berbentuk huruf A.
“Cuma kursi biasa,” gumamnya.
Namun saat ia hendak duduk, Rani tiba-tiba menghentikannya.
“Velove, jangan.”
Velove menoleh. “Kenapa?”
Rani terdiam beberapa detik sebelum menjawab, “Dulu itu tempat duduk Arga.”
“Arga siapa?”
Rani tidak langsung menjawab. Ia hanya menunjuk papan kecil di sudut kelas yang berisi foto siswa-siswa yang pernah menjadi bagian dari kelas tersebut.
Velove menemukan satu foto dengan nama Arga di bawahnya.
“Dia pindah sekolah?” tanyanya.
Rani menggeleng pelan.
“Bukan.”
Sejak saat itu, Velove tidak pernah mencoba duduk di kursi tersebut.
Beberapa hari kemudian, saat membersihkan kelas, ia menemukan selembar kertas terselip di bawah meja.
Tulisan di atasnya singkat.
Kalau suatu hari kursi ini ditempati lagi, berarti aku sudah tidak perlu menunggu.
Velove membacanya berulang kali.
Ia baru menyadari bahwa kursi itu bukan sekadar kursi kosong. Ada seseorang yang pernah meninggalkan cerita di sana.
Keesokan harinya, Velove datang lebih pagi.
Ia menarik kursi itu perlahan, lalu duduk.
Tidak terjadi apa-apa.
Hanya kelas yang sunyi dan cahaya pagi yang masuk melalui jendela.
Namun sebelum pelajaran dimulai, ia menulis sesuatu di selembar kertas dan meletakkannya di bawah meja.
Sekarang kursinya sudah ditempati. Kamu nggak perlu menunggu lagi.