1000340619
LEBAH DI DALAM ROK

Lebah di Dalam Rok

Oleh: Asifudin HD 

Pagi itu mobil DAMKAR memasuki halaman sekolah tanpa suara sirene. Lima petugas turun membawa perlengkapan, membuat siswa yang sedang olahraga berhenti berlari dan guru-guru keluar dari kelas. Tidak ada asap. Tidak ada api. Tidak ada bau terbakar. Namun kehadiran DAMKAR selalu membuat imajinasi bekerja lebih cepat daripada penjelasan.

“Pak, kebakaran di mana?” teriak seorang siswa dari lantai dua.

“Bukan kebakaran,” jawab petugas.

Jawaban itu tidak membuat siapa pun tenang.

Petugas menunjuk ppohonyang cukup besar di pinggir lapangan. Di salah satu dahan, dekat dengan ruang kelas lantai dua dan ruang guru, menggantung sarang lebah yang ukurannya sudah cukup besar. Beberapa lebah beterbangan di sekitarnya.

“Pantas dari kemarin ada yang dengung-dengung,” kata seorang siswa.

Guru yang mendengarnya langsung menyuruh anak-anak menjauh.

Pintu dan jendela kelas ditutup. Siswa yang berada di lantai dua menempel di balik kaca. Lapangan yang biasanya penuh suara sepatu mendadak kosong.

Seorang petugas mengenakan pakaian pelindung lengkap. Wajahnya tertutup, tangannya bersarung tebal, tubuhnya tampak seperti benda asing di antara pohon, lapangan, dan seragam sekolah. Ia membawa alat pembakar lalu mulai memanjat.

Semua orang diam.

Asap mengepul ketika api diarahkan ke sarang. Beberapa lebah berhamburan. Sejumlah siswa spontan menjerit. Guru-guru meminta mereka mundur dari jendela. Petugas tetap bekerja sampai sarang berhasil ditangani.

Tidak ada yang tersengat.

Tidak ada yang terluka.

Beberapa menit kemudian petugas turun. Ketegangan perlahan mengendur. Ada guru yang kembali ke ruangannya. Anak-anak mulai bercakap-cakap. Seorang siswa bahkan sudah berani membuka jendela sedikit.

Kemudian sebuah jeritan pecah dari lantai dua.

“LEBAH!”

Semua kepala mendongak.

Seorang siswi berdiri di teras kelas. Tubuhnya kaku. Kedua tangannya memegangi sisi rok.

“Di mana?” teriak seorang guru.

“Di dalam rok saya!”

Suasana yang baru saja tenang kembali pecah.

Teman-temannya mundur ke dalam kelas.

“Ada yang bergerak!”

“Jangan bergerak dulu!” seru guru dari bawah.

“Saya merasakan sesuatu, Bu!”

“Mungkin lebah yang tadi dari pohon,” kata seseorang.

Kalimat itu menyebar lebih cepat daripada yang seharusnya.

Lebah tadi dari pohon.

Lebah masuk ke teras.

Lebah masuk ke rok.

Sekarang semua orang memiliki seekor lebah yang sama di dalam kepala mereka, meskipun tak seorang pun melihatnya.

Siswi itu mulai menangis.

“Bu, saya takut disengat.”

“Tenang. Tarik napas.”

“Saya nggak bisa!”

Para petugas DAMKAR berlari ke lantai dua. Mereka berhenti beberapa langkah dari siswi itu. Semuanya laki-laki. Mereka saling memandang. Situasi membutuhkan seseorang yang bisa memeriksa pakaian siswi tanpa membuat keadaan semakin canggung.

Wakil kepala sekolah bidang sarana dan prasarana datang.

“Pak, bagaimana?”

“Harus diperiksa, Bu.”

Seorang petugas segera melepas pakaian pelindungnya dan menyerahkannya kepada sang wakil kepala sekolah.

Beberapa saat kemudian, perempuan itu sudah lengkap mengenakan pelindung. Ia tampak seperti akan menghadapi perang, padahal musuh yang dicari belum pernah terlihat.

Ia berjalan perlahan.

“Lihat Ibu,” katanya.

Siswi mengangkat wajah.

“Jangan bergerak. Kita cari sama-sama.”

Pemeriksaan dimulai.

Lipatan rok diperiksa.

Tidak ada apa-apa.

Bagian bawah diperiksa.

Kosong.

“Di sini?” tanya sang wakil kepala sekolah.

Siswi mengangguk cepat.

“Saya tadi merasakan ada yang bergerak di sini.”

Tangan bersarung itu bergerak hati-hati ke lipatan kain.

Sesuatu tersangkut.

Sang wakil kepala sekolah menariknya perlahan.

Semua orang menunggu.

Benda kecil itu keluar.

Bukan lebah.

Bukan sayap.

Bukan sarang.

Hanya selembar plastik pembungkus permen yang terlipat dan kusut.

Tidak ada yang berbicara selama beberapa detik.

Kemudian plastik itu bergerak tertiup angin.

Kriuk.

Siswi menatapnya.

Wajahnya berubah.

“Ini punya kamu?” tanya sang wakil kepala sekolah.

Ia mengangguk.

“Kenapa disimpan di rok?”

Siswi menunduk.

“Tadi saya habis makan permen.”

“Terus?”

“Bu Wali Kelas marah karena kelas kotor. Saya takut dimarahi. Jadi bungkusnya saya sembunyikan.”

Beberapa anak di dalam kelas mulai tertawa. Guru mereka memandang mereka, dan tawa itu segera mengecil.

Wakil kepala sekolah membuka pelindung wajahnya.

“Jadi yang kamu rasakan bergerak tadi…”

Siswi memandangi bungkus permen itu.

“…ini.”

Angin kembali bergerak.

Kriuk.

Kali ini tidak ada yang takut.

Di bawah, pohon tempat sarang lebah tadi berada sudah kembali sunyi. Petugas DAMKAR membereskan peralatan. Lapangan kembali dipenuhi siswa. Pintu dan jendela kelas mulai terbuka satu per satu.

Semua kembali seperti semula.

Hampir.

Sang wali kelas masih berdiri di dekat pintu ketika siswi itu datang menyerahkan bungkus permen kepadanya.

“Bu.”

“Ya?”

“Maaf.”

Wali kelas menerima bungkus itu.

“Lain kali buang ke tempat sampah.”

Siswi mengangguk.

Ia lalu bertanya pelan, “Bu… kalau tadi saya tidak tahu itu bungkus permen, apakah memang rasanya seperti ada lebah?”

Wali kelas terdiam.

Ia melihat benda kecil di tangannya.

“Mungkin.”

Siswi menunggu.

“Kadang,” lanjutnya, “sesuatu terasa nyata karena kita sudah lebih dulu percaya bahwa itu nyata.”

Siswi mengangguk, meski mungkin belum sepenuhnya mengerti.

Dari halaman terdengar suara mobil DAMKAR meninggalkan sekolah.

Sarang lebah sudah tidak ada.

Lebahnya juga tidak pernah berada di dalam rok.

Ia hanya masuk lebih dulu ke kepala kita.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait