963a2b07-cbd0-4824-997c-75cd6ef30efc-3
Lima menit Yangg terasa seperti satu

Bel istirahat berbunyi. Aku, Rani, dan Dika langsung keluar kelas dan berjalan menuju kantin. Rasanya baru beberapa menit kami duduk, tetapi suasana sudah terasa menyenangkan.

“Akhirnya istirahat juga,” kata Dika sambil meletakkan makanannya di meja.

Rani tertawa. “Iya, tadi pelajarannya lama banget.”

Kami mulai makan sambil bercerita tentang kejadian di kelas. Dika bahkan sempat menceritakan kejadian lucu yang membuat kami tertawa hampir tidak berhenti.

Aku melihat jam sebentar.

“Eh, masih lama kok,” kataku.

Kami kembali mengobrol. Tidak terasa, makanan kami sudah habis. Rani tiba-tiba melihat jam dan langsung terkejut.

“Eh, kok udah segini?!” serunya.

Aku ikut melihat jam. Tinggal beberapa menit sebelum bel masuk.

“Perasaan baru sebentar kita di sini,” kata Dika.

Bel masuk akhirnya berbunyi. Kami buru-buru membereskan barang dan kembali ke kelas.

Di perjalanan, aku berpikir, **semua orang mengira waktu istirahat terasa singkat karena waktunya memang sebentar, padahal kita sering terlalu menikmati waktu bersama teman sampai tidak sadar waktu sudah berlalu.**

Ternyata bukan waktunya yang berjalan lebih cepat. Hanya saja, ketika sedang bersenang-senang, kita sering lupa memperhatikan waktu.

Sejak saat itu, setiap bel istirahat berbunyi, aku selalu merasa ingin waktu berhenti sebentar.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait