LIMINAL
Asifudin HD
Manusia tidak pernah benar-benar selesai menjadi manusia.
Ia datang membawa kemungkinan,
lalu dunia mulai memberinya bentuk:
pendidikan, pengalaman,
bahkan penderitaan yang diam-diam
mengubah cara ia memandang kehidupan.
Ilmu mengajarinya berpikir,
seni mengajarinya merasa,
perjalanan mengajarinya berani,
dan konsistensi mengajarinya bertahan
ketika hasil belum juga kelihatan.
Namun, tidak semua yang membentuk
layak menentukan siapa dirinya.
Sebab manusia bukan tanah liat
yang menyerahkan seluruh rupanya
kepada tangan-tangan di luar dirinya.
Ia boleh tersesat tanpa kehilangan arah,
boleh runtuh tanpa menjadi sia-sia,
boleh mengubah keyakinan
ketika pengetahuan menunjukkan
bahwa selama ini ia keliru.
Di antara yang diwariskan
dan yang dipilihnya sendiri,
manusia berdiri di sebuah ambang:
meninggalkan dirinya yang lama,
tanpa pernah sepenuhnya mengetahui
siapa yang sedang ia tuju.
Barangkali di sanalah pendidikan
menemukan maknanya yang paling dalam.
Bukan sekadar membuat manusia tahu,
bukan pula menyeragamkan langkah
agar semua tiba di tempat yang sama,
melainkan memberinya pengetahuan
untuk membaca dunia,
kepekaan untuk memahami sesama,
dan keberanian untuk menentukan sikap.
Sebab masa depan bukan ruang kosong
yang akan terisi dengan sendirinya.
Ada tangan-tangan yang ingin menggambarnya,
ada keadaan yang berusaha membatasinya,
ada kekuasaan yang memilihkan arahnya,
dan ada manusia yang perlahan belajar
bahwa ia pun berhak memegang kuasnya.
Pada akhirnya,
barangkali kita memang tidak pernah
menjadi bentuk yang sepenuhnya selesai.
Kita hanya terus bergerak
di antara siapa kita dahulu
dan siapa yang berani kita pilih
untuk menjadi.
