Literasi Paket Nasi
Oleh: Asifudin HD
Apa yang biasanya kita lakukan ketika mendapatkan paket Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah?
Mungkin kita membukanya, melihat menunya, kemudian makan. Setelah selesai, kemasannya dibuang dan aktivitas pun berakhir. Padahal, jika kita mau melihat sedikit lebih lama, satu paket makanan sebenarnya menyimpan banyak hal yang bisa dipelajari.
Di sekolah-sekolah yang telah mendapatkan program MBG, termasuk sekolah kita, paket makanan tersebut dapat menjadi sumber belajar yang sederhana, dekat, dan nyata. Literasi dan numerasi tidak selalu harus dimulai dari buku atau lembar kerja. Sesuatu yang berada di depan mata siswa setiap hari pun dapat menjadi bahan belajar.
Paket nasi bisa menjadi teks. Paket nasi bisa menjadi angka. Paket nasi juga bisa menjadi persoalan lingkungan.
Mari kita mulai dari menu.
Siswa dapat membaca dan mencatat apa saja yang terdapat dalam satu paket makanan. Nasi, ayam, telur, ikan, tahu, tempe, sayuran, buah, atau menu lainnya tidak hanya dapat disebutkan, tetapi juga dapat menjadi bahan untuk mengenal kosakata. Dari nama makanan, siswa dapat mencari asal-usulnya, cara pengolahannya, kandungan bahan utamanya, bahkan cerita budaya di balik makanan tersebut.
Satu menu dapat melahirkan banyak pertanyaan.
Mengapa nasi menjadi makanan pokok kita? Dari mana beras berasal? Apa perbedaan protein hewani dan nabati? Mengapa sayuran penting? Mengapa buah sering disertakan dalam menu? Bagaimana makanan tersebut diolah sebelum sampai ke meja siswa?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu adalah pintu masuk literasi.
Literasi tidak selalu berarti membaca teks yang panjang. Literasi juga berarti kemampuan membaca sesuatu yang ada di sekitar kita, memahami informasi, mengajukan pertanyaan, kemudian menghubungkannya dengan kehidupan.
Paket MBG juga dapat digunakan untuk numerasi sederhana.
Siswa dapat menghitung jumlah komponen makanan dalam satu paket. Mereka dapat memperkirakan berat nasi, menghitung jumlah potongan lauk, membandingkan ukuran buah, atau mencatat berapa banyak makanan yang tersisa setelah makan. Jika tersedia informasi gizi dari penyedia makanan atau sumber resmi, informasi tersebut dapat dibaca dan dibandingkan secara sederhana.
Dari sana siswa dapat mengenal istilah seperti energi, protein, karbohidrat, lemak, serat, vitamin, dan mineral.
Tidak perlu menjadikan siswa ahli gizi.
Cukup ajak mereka bertanya.
Apa yang kita makan? Berapa banyak? Apa manfaatnya? Apa yang tersisa?
Dari pertanyaan sederhana tersebut, numerasi dan literasi dapat berjalan beriringan.
Misalnya, dalam satu kelas terdapat 36 siswa. Jika setiap siswa mendapatkan satu paket makanan, berapa paket yang diterima kelas tersebut? Jika lima siswa tidak menghabiskan sayurannya, berapa bagian makanan yang tersisa? Jika sisa makanan dikumpulkan, berapa beratnya dalam satu hari? Bagaimana jika jumlah tersebut dihitung selama lima hari atau satu bulan?
Angka-angka sederhana itu kemudian memiliki cerita.
Kita tidak sedang mengerjakan soal matematika yang terlepas dari kehidupan. Kita sedang membaca data dari kehidupan sehari-hari.
Hal yang sama dapat dilakukan terhadap limbah.
Setelah makanan selesai disantap, kegiatan belajar sebenarnya belum selesai. Ada sisa nasi, potongan sayuran, kulit buah, tulang, atau bagian makanan lain yang mungkin menjadi limbah organik. Di sinilah literasi lingkungan dapat dimulai.
Siswa dapat memilah mana limbah organik dan mana yang bukan. Mereka dapat mengamati jumlah limbah yang dihasilkan dalam satu hari, mencatatnya, kemudian membandingkannya dari hari ke hari.
Pertanyaan berikutnya menjadi lebih menarik:
Ke mana semua sisa makanan itu pergi?
Jika seluruh sisa makanan langsung masuk ke tempat sampah, kita kehilangan kesempatan untuk belajar bahwa sebagian limbah organik masih dapat dimanfaatkan. Dengan pengelolaan yang tepat, limbah organik dapat diproses menjadi kompos atau pupuk organik yang bermanfaat bagi tanaman.
Sekolah bahkan dapat membuat siklus pembelajaran yang sederhana.
Makanan datang → makanan dibaca → makanan dimakan → sisa dipilah → limbah organik diolah → menjadi pupuk → digunakan untuk tanaman sekolah.
Dengan cara itu, paket makanan tidak berhenti sebagai sesuatu yang datang lalu menjadi sampah. Ia menjadi bagian dari sebuah siklus pembelajaran.
Bayangkan jika siswa mencatat berat limbah organik setiap hari.
Hari Senin: sekian kilogram.
Hari Selasa: sekian kilogram.
Hari Rabu: sekian kilogram.
Data tersebut dapat dibuat menjadi tabel atau grafik. Siswa dapat mencari rata-rata, membandingkan jumlahnya, dan mendiskusikan mengapa jumlah limbah pada hari tertentu lebih banyak daripada hari lainnya.
Di sinilah numerasi bertemu dengan kepedulian lingkungan.
Lebih jauh lagi, siswa dapat mengamati proses pengomposan. Berapa lama prosesnya? Apa yang berubah? Bagaimana warna dan teksturnya? Apa yang terjadi ketika bahan organik mulai terurai? Apa yang harus dilakukan agar pengolahan berlangsung dengan baik?
Siswa dapat membuat catatan pengamatan.
Dari catatan pengamatan lahir laporan.
Dari laporan lahir data.
Dari data lahir kesimpulan.
Dan dari pengalaman itu, siswa belajar bahwa pengetahuan tidak selalu berada jauh dari mereka. Kadang-kadang pengetahuan berada di dalam paket nasi yang mereka pegang.
Tentu, pemanfaatan paket MBG sebagai sumber literasi dan numerasi tidak berarti mengubah waktu makan menjadi pelajaran formal yang penuh tugas. Justru sebaliknya, kegiatan dapat dibuat sederhana, menyenangkan, dan proporsional. Tidak semua paket harus dihitung, tidak semua menu harus dianalisis, dan tidak setiap sisa makanan harus menjadi proyek.
Yang penting adalah membangun cara pandang.
Ketika melihat makanan, siswa belajar bertanya.
Ketika melihat angka, siswa belajar memahami.
Ketika melihat sampah, siswa belajar memikirkan kembali.
Inilah salah satu bentuk pembelajaran kontekstual yang dapat tumbuh dari program yang sudah hadir di sekolah.
MBG memenuhi kebutuhan makan. Namun dari paket yang sama, sekolah dapat menumbuhkan pengalaman belajar.
Satu paket dapat mengajarkan kosakata.
Satu menu dapat melahirkan pertanyaan.
Satu porsi dapat menjadi angka.
Satu sisa makanan dapat menjadi data.
Dan satu kilogram limbah organik dapat menjadi awal pembicaraan tentang lingkungan.
Pada akhirnya, literasi bukan hanya tentang seberapa banyak buku yang kita baca. Literasi juga tentang seberapa dalam kita mampu membaca kehidupan.
Begitu pula numerasi. Ia bukan hanya angka yang muncul di papan tulis. Numerasi hadir ketika kita mampu menggunakan angka untuk memahami sesuatu yang benar-benar terjadi di sekitar kita.
Maka, ketika besok sebuah paket MBG kembali berada di meja siswa, mungkin kita tidak perlu terburu-buru melihatnya hanya sebagai makanan.
Cobalah melihatnya sebagai bahan belajar yang bisa dimakan, dihitung, dibaca, diamati, dan bahkan dikembalikan kepada tanah dalam bentuk pupuk.
Sebab kadang-kadang, pelajaran yang paling dekat dengan kita justru datang dalam sebuah paket nasi.
