1000340630
MADILOG DAN KOLOM KOMENTAR

MADILOG DAN KOLOM KOMENTAR

Asifudin HD 

Tan Malaka menulis Madilog
agar kita berhenti percaya pada guna-guna,
dukun, dan nasib yang diramal
dari garis tangan.

Ia ingin pikiran kita bekerja
seperti mesin yang cermat:
melihat benda, membedah sebab,
lalu menarik kesimpulan tanpa takhayul.

Logika yang tegak.
Materialistis. Dialektis.

Namun jam tiga pagi,
di kamar yang hanya diterangi layar ponsel,
aku membaca perdebatan panjang
di kolom komentar.

Ratusan orang saling melempar kutipan,
grafik, dan data dari internet
bukan untuk mencari mana yang benar,
melainkan untuk memastikan
bahwa mereka tidak kelihatan bodoh.

Aku sendiri sempat mengetik dua paragraf,
menata argumentasi dengan rapi,
sebelum akhirnya kuhapus kembali.

Bukan karena aku sadar,
tetapi karena aku tahu
mereka tidak sedang membaca tulisanku.

Mereka hanya sedang menunggu giliran
untuk membalas.

Tan Malaka barangkali optimis
bahwa jika takhayul dibersihkan,
manusia akan menjadi rasional.

Ia tidak sempat menyaksikan zaman
ketika kita tidak lagi butuh dukun
untuk tersesat.

Kita hanya butuh koneksi internet
dan keinginan yang tergesa-gesa
untuk selalu merasa benar.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait