MADILOG DAN KOLOM KOMENTAR
Asifudin HD
Tan Malaka menulis Madilog
agar kita berhenti percaya pada guna-guna,
dukun, dan nasib yang diramal
dari garis tangan.
Ia ingin pikiran kita bekerja
seperti mesin yang cermat:
melihat benda, membedah sebab,
lalu menarik kesimpulan tanpa takhayul.
Logika yang tegak.
Materialistis. Dialektis.
Namun jam tiga pagi,
di kamar yang hanya diterangi layar ponsel,
aku membaca perdebatan panjang
di kolom komentar.
Ratusan orang saling melempar kutipan,
grafik, dan data dari internet
bukan untuk mencari mana yang benar,
melainkan untuk memastikan
bahwa mereka tidak kelihatan bodoh.
Aku sendiri sempat mengetik dua paragraf,
menata argumentasi dengan rapi,
sebelum akhirnya kuhapus kembali.
Bukan karena aku sadar,
tetapi karena aku tahu
mereka tidak sedang membaca tulisanku.
Mereka hanya sedang menunggu giliran
untuk membalas.
Tan Malaka barangkali optimis
bahwa jika takhayul dibersihkan,
manusia akan menjadi rasional.
Ia tidak sempat menyaksikan zaman
ketika kita tidak lagi butuh dukun
untuk tersesat.
Kita hanya butuh koneksi internet
dan keinginan yang tergesa-gesa
untuk selalu merasa benar.
