1000340003
Masih Aktif Menulis, Wa?

“Masih Aktif Menulis, Wa?”

Oleh: Asifudin HD

“Masih aktif menulis, Wa?”

Pertanyaan itu sekilas terdengar seperti seseorang sedang menyapa orang yang lebih tua. Dalam percakapan sehari-hari, “Wa” bisa menjadi panggilan akrab untuk seseorang yang lebih tua, terutama dalam lingkungan budaya tertentu. Namun, kali ini Wa yang saya maksud bukan itu. Saya sedang bertanya tentang WA—WhatsApp.

Pertanyaannya menjadi sedikit aneh jika dibaca dengan cara pertama. Tetapi justru di situlah persoalannya. Sebab, setiap hari kita sebenarnya sangat aktif menulis WA. Bahkan mungkin terlalu aktif.

Kita menulis “OTW”, meskipun baru mencari sandal. Kita menulis “siap”, “hadir”, “nanti saya kirim”, “mohon izin”, “terima kasih”, “wkwkwk”, sampai pesan panjang yang bisa mengalahkan panjangnya artikel di majalah sekolah. Ada yang mampu mengirim belasan pesan berturut-turut hanya untuk menjelaskan satu kejadian sederhana. Ada pula yang kalau sedang bercerita kepada teman bisa menghasilkan satu layar penuh tulisan tanpa pernah merasa dirinya sedang menulis.

Namun, cobalah suatu hari seorang guru berkata, “Silakan tulis satu halaman tentang pengalaman kalian minggu ini.”

Tiba-tiba suasana berubah.

Tangan yang biasanya lincah mengetik mendadak kehilangan arah. Jempol seperti kehilangan sinyal. Kalimat pertama tidak kunjung lahir. Sebagian mulai menghapus kalimat yang baru saja ditulis. Sebagian lagi bertanya, “Pak, boleh tentang apa saja?”

Padahal beberapa menit sebelumnya, mungkin orang yang sama baru saja menulis panjang lebar di WhatsApp.

Di sinilah ada sebuah paradoks kecil dalam kehidupan literasi kita: kita tidak kekurangan kegiatan menulis, tetapi sering kekurangan kesadaran bahwa kita sedang menulis.

WhatsApp sebenarnya telah menjadi salah satu ruang latihan menulis yang paling dekat dengan kehidupan kita. Ketika seseorang mengirim pesan untuk memberi tahu bahwa ia terlambat, ia sedang belajar menyampaikan informasi. Ketika seseorang menjelaskan pendapatnya dalam percakapan grup, ia sedang belajar menyusun alasan. Ketika seseorang membuat pengumuman, ia sedang belajar memilih informasi yang penting. Ketika seseorang menceritakan pengalaman kepada temannya, ia sedang belajar bertutur.

Bahkan status WhatsApp pun, jika diperhatikan, merupakan bentuk latihan menulis yang menarik. Seseorang harus memilih pengalaman mana yang hendak dibagikan, menentukan kata-kata yang dianggap tepat, lalu memikirkan bagaimana orang lain akan membacanya.

Memang, menulis pesan WhatsApp tidak otomatis membuat seseorang mampu menulis artikel, cerpen, puisi, atau esai. Menulis untuk karya yang lebih panjang membutuhkan keterampilan lain: mengembangkan gagasan, membangun alur, memilih kata, menghubungkan paragraf, menyunting, dan bersedia membaca ulang tulisan sendiri.

Tetapi setidaknya ada satu hal yang dapat kita pelajari dari kebiasaan tersebut: kemampuan menulis tidak selalu harus dimulai dari halaman kosong.

Ia bisa dimulai dari sesuatu yang sudah kita lakukan setiap hari.

Seorang siswa yang berkata, “Saya tidak bisa menulis,” sebenarnya mungkin sudah memiliki banyak bahan tulisan. Ia pernah kecewa, tertawa, dimarahi, kehilangan sesuatu, bertemu orang baru, mengikuti kegiatan sekolah, melakukan perjalanan, menyaksikan kejadian lucu di kelas, atau mengalami percakapan yang tidak terlupakan.

Masalahnya sering kali bukan karena tidak memiliki cerita.

Masalahnya adalah kita belum terbiasa menganggap pengalaman sehari-hari sebagai sesuatu yang layak ditulis.

Padahal sebuah tulisan tidak selalu lahir dari peristiwa besar. Kadang ia berangkat dari hal yang sangat sederhana: suara bel sekolah, bangku yang selalu diduduki orang yang sama, hujan ketika jam pulang, teman yang datang terlambat, kantin yang kehabisan gorengan, guru yang salah menyebut nama siswa, atau percakapan singkat yang tiba-tiba kita ingat sepanjang perjalanan pulang.

Literasi menjadi menarik ketika kita mulai melihat bahwa kehidupan sehari-hari sebenarnya penuh dengan bahan bacaan dan bahan tulisan.

Karena itu, mungkin kita perlu mengubah cara memandang kegiatan menulis di sekolah. Menulis tidak harus selalu dimulai dengan instruksi, “Buatlah karangan minimal tiga paragraf.”

Kita bisa memulainya dari sesuatu yang lebih dekat.

Misalnya, seorang siswa memilih satu status WhatsApp yang pernah ia tulis, lalu mengembangkannya menjadi sebuah paragraf reflektif. Sebuah percakapan menarik diubah menjadi dialog pendek. Pengalaman mengikuti kegiatan sekolah dikembangkan menjadi berita. Keluhan tentang sesuatu di lingkungan sekolah diubah menjadi tulisan argumentatif. Sebuah foto perjalanan dapat menjadi awal sebuah cerita.

Dari sana, tulisan dapat tumbuh.

Bukan karena siswa tiba-tiba berubah menjadi penulis, tetapi karena mereka mulai menyadari bahwa mereka sudah mempunyai kebiasaan menulis; yang perlu dilakukan adalah memperpanjang napas tulisan tersebut.

Barangkali selama ini kita terlalu sering mempertemukan siswa dengan tulisan yang sudah jadi, tetapi kurang sering mengajak mereka melihat bagaimana tulisan bisa lahir dari kehidupan mereka sendiri.

Kita meminta mereka membaca cerpen, tetapi lupa bertanya apakah ada satu kejadian dalam hidup mereka yang sebenarnya bisa menjadi cerpen.

Kita meminta mereka membuat artikel, tetapi mungkin belum mengajak mereka memperhatikan persoalan kecil di sekitar sekolah yang sebenarnya menarik untuk dibicarakan.

Kita meminta mereka menulis puisi, tetapi barangkali belum memberi kesempatan kepada mereka untuk menemukan bahasa dari pengalaman mereka sendiri.

Literasi bukan hanya perkara banyak membaca. Literasi juga merupakan keberanian untuk mengolah apa yang kita lihat, dengar, rasakan, pikirkan, dan alami menjadi sesuatu yang dapat dibagikan kepada orang lain.

Dan mungkin WhatsApp dapat menjadi pintu masuk yang sederhana.

Bukan karena semua yang ada di WhatsApp harus dijadikan karya. Tentu tidak. Sebagian pesan memang cukup menjadi pesan. Sebagian percakapan memang lebih baik selesai sebagai percakapan.

Tetapi dari kebiasaan mengetik setiap hari itu, kita dapat belajar satu hal penting: menulis sebenarnya tidak sejauh yang kita bayangkan.

Kita hanya perlu belajar membedakan antara menulis untuk segera dikirim dan menulis untuk dipikirkan kembali.

Menulis pesan biasanya mengejar kecepatan.

Menulis karya memberi kesempatan kepada pikiran untuk berjalan lebih jauh.

Menulis pesan sering selesai setelah tombol “kirim” ditekan.

Menulis karya justru baru dimulai setelah kalimat pertama selesai.

Maka, ketika seorang siswa mengatakan, “Saya tidak bisa menulis,” mungkin kita tidak perlu buru-buru menjawab bahwa ia harus lebih banyak berlatih.

Kita bisa bertanya lebih sederhana:

“Kalau begitu, selama ini kamu paling sering menulis apa?”

Mungkin jawabannya adalah WhatsApp.

Dan dari jawaban yang sederhana itu, percakapan tentang literasi bisa dimulai.

Jadi, masih aktif menulis, Wa?

Kalau jawabannya masih, mungkin sesungguhnya kita sudah mempunyai modal yang cukup.

Tinggal satu langkah lagi: mengambil tulisan yang selama ini cepat hilang bersama notifikasi, lalu memberinya kesempatan untuk tinggal sedikit lebih lama.

Siapa tahu, dari sebuah pesan yang hampir terlupakan, lahir sebuah cerita.

Dari sebuah cerita, lahir sebuah tulisan.

Dan dari sebuah tulisan, seseorang akhirnya menemukan bahwa ia ternyata bisa menjadi penulis.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait