8c3fe77d-73d4-4337-891e-eab935391bb4
“Mengapa waktu istirahat selalu terasa singkat

Mengapa waktu Istirahat selalu terasa singkat”
Pertanyaan
1. Mengapa waktu istirahat terasa lebih cepat daripada waktu pelajaran?
2. Apa yang biasanya dilakukan siswa saat istirahat?
3. Mengapa kita sering merasa belum puas ketika waktu istirahat selesai?
4. Apakah kesibukan saat istirahat membuat waktu terasa lebih cepat?
5. Mengapa waktu belajar terasa lebih lama dibandingkan waktu istirahat?
Pertanyaan utama:
Mengapa waktu istirahat terasa lebih cepat daripada waktu pelajaran?
Bel istirahat berbunyi dan suasana kelas langsung berubah, semua siswa langsung terlihat senang. Ada yang pergi ke kantin untuk membeli makanan, ada yang mengobrol dengan teman, dan ada juga yang duduk santai di kelas. Rasanya baru sebentar menikmati waktu istirahat, tetapi bel masuk sudah berbunyi lagi. Padahal masih banyak hal yang ingin dilakukan.
Menurutku, waktu istirahat terasa cepat karena kita melakukan hal-hal yang menyenangkan. Saat sedang asyik mengobrol, bercanda, atau bermain bersama teman, kita sampai lupa melihat jam. Berbeda dengan saat belajar, terkadang kita sering melihat jam karena menunggu pelajaran selesai. Itulah sebabnya waktu istirahat terasa lebih singkat.
Dari pengalaman itu, aku menyadari bahwa waktu terasa cepat saat kita sedang senang. Karena itu kita sering merasa waktu istirahat masih kurang ketika bel masuk berbunyi.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait