1000337933
“Mereka Baca Teks Proklamasi, Tapi Menikam Pasal-Pasal Keadilan”

“Mereka Baca Teks Proklamasi, Tapi Menikam Pasal-Pasal Keadilan”

Asifudin HD

Dibaca setiap waktu tertentu.
Dibingkai di ruang-ruang resmi.
Tapi…
apa yang terjadi setelah tanda tangan itu?

Tinta belum kering dari sejarah,
tapi pasal-pasal keadilan
sudah ditikam diam-diam
di meja-meja rapat tanpa saksi.

Mereka baca teks Proklamasi,
tapi menulis ulang keadilan
dengan tinta kepentingan.
Undang-undang dibahas
lebih cepat dari detak rakyat.
Pasal-pasal ditambah,
asal menguntungkan mereka.
Ayat-ayat dihapus,
jika dianggap mengganggu kuasa.

Lihatlah buku ini
dulu ditulis untuk rakyat.
Sekarang, isinya penuh celah.
Penuh jebakan kata.
Penuh klausul yang tak kita pahami,
tapi bisa menjerat kita kapan saja.

Mereka bilang hukum itu adil.
Tapi keadilan sekarang
dilihat dari seberapa tebal dompetmu,
atau seberapa tinggi jabatanmu.

Teks ini pernah jadi cahaya.
Sekarang jadi dekorasi.
Simbol,
tanpa substansi.

Negara hukum, katanya…
tapi rakyat yang bersuara,
justru diadili.
Pejabat yang mencuri,
diberi panggung.

Kami tak ingin hanya mendengar “Merdeka”
seperti nyanyian nostalgia.
Kami ingin pasal-pasal
yang melindungi kami.
Kami ingin janji-janji
yang tidak berdarah di lengan petani,
di bibir aktivis,
di dada buruh.

Jika Proklamasi adalah permulaan,
mengapa keadilannya belum juga datang?

Mereka baca teks Proklamasi,
tapi menikam pasal-pasal keadilan…
dengan lidah yang sama.

Parongpong, 16 September 2026

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait