MIMOSA PUDICA
Asifudin HD
Ketika kau kuberi jarak,
bungamu mekar begitu liar,
menularkan wangi yang tak sempat kuhisap,
menjelma kemewahan yang kupandang dari kejauhan.
Namun jika kusentuh sedikit saja,
bahkan hanya dengan ujung kata,
kau mendadak menjadi Mimosa pudica:
menguncupkan seluruh helai rahasiamu,
mengatupkan raga,
bersembunyi di balik duri-duri kecil yang tiba-tiba terjaga.
Lantas, jika sentuhan selalu membuatmu menguncup dan menutup pintu,
kenapa tubuhmu diciptakan untuk menciptakan rindu?
Apakah raga itu ilegal untuk didekap,
menjadikan sekadar monumen
agar mataku belajar mengeja arti jarak yang menetap?
Jika memang demikian,
biarlah kubiarkan jemariku membeku di kaki lima.
Sebab membiarkanmu mekar dalam jarak aman
adalah satu-satunya cara mencintaimu
tanpa harus merusak tubuhmu.
