MUSEUM CARA MENUNGGU
Asifudin HD
Kita telah kehilangan seni menunggu.
Dulu, rindu dibentuk oleh derak roda kereta malam,
oleh kertas surat yang agak lecek karena keringat telapak tangan,
dan oleh jejak langkah di jalan setapak yang membutuhkan hari.
Jarak saat itu adalah musuh yang anggun:
ia menggembleng tubuh kita menjadi lebih sabar,
mengajari dada bagaimana rasanya menyimpan keteguhan.
Kini, jarak telah dimutilasi oleh kecepatan.
Hanya perlu satu ketukan jempol di atas layar kaca,
dan wajahmu langsung muncul,
datar, berpiksel, tanpa aroma, tanpa kehangatan napas.
Kita sampai di seberang sebelum sempat merasa rindu.
Kita memeluk bayangan sebelum sempat merindukan bentuk.
“Mengapa kau masih tampak cemas?” tanyamu dari balik layar.
Aku bingung menjawabnya.
Sebab yang terputus di antara kita
bukanlah sinyal seluler atau jaringan serat optik,
melainkan proses menubuh itu sendiri.
Rindu yang disajikan terlalu cepat
seperti buah yang diperam karbit:
manis di permukaan,
namun hambar dan tawar hingga ke dasar bijinya.
