1000340675
MUSEUM CARA MENUNGGU

MUSEUM CARA MENUNGGU

Asifudin HD 

Kita telah kehilangan seni menunggu.

Dulu, rindu dibentuk oleh derak roda kereta malam,

oleh kertas surat yang agak lecek karena keringat telapak tangan,

dan oleh jejak langkah di jalan setapak yang membutuhkan hari.

Jarak saat itu adalah musuh yang anggun:

ia menggembleng tubuh kita menjadi lebih sabar,

mengajari dada bagaimana rasanya menyimpan keteguhan.

Kini, jarak telah dimutilasi oleh kecepatan.

Hanya perlu satu ketukan jempol di atas layar kaca,

dan wajahmu langsung muncul,

datar, berpiksel, tanpa aroma, tanpa kehangatan napas.

Kita sampai di seberang sebelum sempat merasa rindu.

Kita memeluk bayangan sebelum sempat merindukan bentuk.

“Mengapa kau masih tampak cemas?” tanyamu dari balik layar.

Aku bingung menjawabnya.

Sebab yang terputus di antara kita

bukanlah sinyal seluler atau jaringan serat optik,

melainkan proses menubuh itu sendiri.

Rindu yang disajikan terlalu cepat

seperti buah yang diperam karbit:

manis di permukaan,

namun hambar dan tawar hingga ke dasar bijinya.

 

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait