MUSEUM OPLAH DINGIN
Asifudin HD
Makin sunyi sebuah waktu,
makin berlipat ganda oplah rindu yang dicetak di dada malam.
Tanpa mesin cetak berisik,
tanpa kertas yang terbuang sia-sia,
ribuan eksemplar ingatan diterbitkan sekaligus:
menumpuk di lorong-lorong benak,
meluap hingga ke sudut mata,
memenuhi ruang tamu batin yang tak pernah menerima tamu.
Tidak ada pembeli untuk terbitan ini.
Tidak ada toko buku yang sudi memajangnya di rak paling depan.
Seluruh oplah raksasa itu
hanya dibaca oleh satu-satunya pembaca yang tersisa:
diri sendiri yang mengutuk sunyi,
sembari mengeja kembali namamu
di lembar demi lembar edisi terbatas yang tak pernah usai.
