IMG_3059-1
Nada Yang Tinggal

 

NADA YANG TINGGAL
Zifana Syahla Syahira
Kelas XI-A

Pengalaman Diri Siswa
Sejak sekitar usia lima tahun, saya mulai memiliki kecintaan yang besar terhadap bernyanyi. Bernyanyi menjadi salah satu hal yang sangat saya sukai hingga saya pernah memiliki cita-cita untuk menjadi seorang penyanyi.
Saat berusia sekitar delapan tahun, saya sering mengikuti berbagai perlombaan bernyanyi antardaerah. Salah satu pengalaman yang paling berkesan adalah ketika saya mendapat kesempatan tampil di televisi dan disaksikan oleh banyak penonton.
Pengalaman tersebut menjadi sesuatu yang sangat membanggakan bagi saya dan keluarga. Dari pengalaman itu, saya merasakan keberanian untuk tampil, kebahagiaan, dukungan keluarga, serta berbagai perasaan yang muncul sebelum dan ketika tampil.
Seiring berjalannya waktu, pengalaman tersebut memang telah menjadi bagian dari masa lalu. Namun, kecintaan terhadap musik dan kenangan tentang pengalaman tersebut masih tetap tersimpan dalam diri saya.
Bagi saya, pengalaman itu bukan hanya tentang pernah mengikuti lomba atau tampil di televisi. Lebih dari itu, pengalaman tersebut merupakan bagian dari masa kecil yang ikut membentuk diri saya sampai sekarang.

Judul Lukisan
“Nada yang Tinggal”
Judul ini menggambarkan sesuatu yang mungkin telah berlalu dalam waktu, tetapi tidak sepenuhnya hilang dari dalam diri.
“Nada yang Tinggal” memiliki makna tentang kecintaan terhadap musik yang masih ada, kenangan masa kecil yang melekat, keberanian untuk tampil, dukungan keluarga, cita-cita yang pernah tumbuh, serta pengalaman berharga yang membentuk diri saya.
Judul ini tidak secara langsung menjelaskan isi lukisan sehingga memberikan kesempatan kepada penonton untuk menafsirkan karya melalui bentuk, warna, dan suasana yang mereka lihat.

Identitas Karya
Judul: Nada yang Tinggal
Karya: Zifana Syahla Syahira
Kelas: XI-A
Ukuran: 30 × 40 cm
Konsep: Transformasi pengalaman pribadi menjadi abstraksi ekspresif

Gagasan Utama
Lukisan ini berangkat dari pengalaman masa kecil ketika bernyanyi menjadi bagian penting dalam kehidupan saya.
Saya tidak menggambarkan pengalaman tersebut secara langsung melalui sosok manusia, panggung, televisi, atau perlombaan. Sebaliknya, pengalaman tersebut saya ubah menjadi bahasa visual melalui bentuk abstrak, aliran garis, warna, tekstur, dan simbol musik.
Dengan demikian, lukisan ini bukan sekadar menggambarkan seseorang yang sedang bernyanyi, tetapi menggambarkan bagaimana sebuah pengalaman dapat berubah menjadi perasaan dan kemudian diterjemahkan ke dalam karya seni.

Konsep Lukisan
Konsep karya ini menggunakan proses:
Pengalaman → Perasaan → Bahasa Visual
Pengalaman tentang bernyanyi dan tampil di televisi diolah menjadi perasaan seperti bahagia, bangga, berani, gugup, dan penuh kenangan. Perasaan tersebut kemudian diterjemahkan melalui unsur-unsur seni rupa yang bersifat abstrak.
Not-not musik menjadi simbol dari kecintaan saya terhadap bernyanyi. Kehadirannya tidak hanya menunjukkan musik secara langsung, tetapi menjadi tanda bahwa pengalaman tersebut masih memiliki tempat dalam diri saya.

Unsur Visual dalam Lukisan
1. Garis
Garis bergelombang dan melengkung menjadi salah satu unsur utama dalam karya. Garis tersebut menggambarkan aliran musik, perjalanan, serta kenangan yang terus bergerak.
1. Bentuk
Bentuk dalam lukisan dibuat sederhana, abstrak, dan tidak sepenuhnya menyerupai objek nyata. Bentuk tersebut digunakan untuk menerjemahkan pengalaman menjadi perasaan, bukan menceritakannya secara langsung.
1. Warna
Warna biru, merah marun, abu-abu, kuning, dan emas digunakan untuk membangun suasana emosional.
Biru → ketenangan dan ruang kenangan.
Merah marun → keberanian dan perasaan yang mendalam.
Abu-abu → rasa gugup, ketidakpastian, dan tantangan.
Kuning/emas → kebahagiaan, keberhasilan, dan sesuatu yang berharga.
1. Tekstur
Tekstur dan percikan warna pada beberapa bagian memberikan kesan bahwa kenangan tidak selalu tersusun rapi. Ada bagian yang samar, ada yang kuat, dan ada pula yang muncul seperti potongan-potongan ingatan.
4. Ruang
Ruang dalam karya tidak dibuat secara realistis. Kedalaman muncul melalui tumpang tindih bidang, perbedaan ukuran, dan perbedaan intensitas warna.

Prinsip Seni Rupa
Dominasi
Aliran garis musik di bagian tengah menjadi pusat perhatian karena memiliki bentuk yang berbeda dari bidang di sekitarnya.
Keseimbangan
Bidang gelap dan warna-warna kuat di sisi kiri dan kanan menciptakan keseimbangan visual meskipun komposisinya tidak simetris.

Irama
Pengulangan garis bergelombang dan simbol not musik menciptakan irama yang menyerupai alunan lagu.

Kesatuan
Warna dan bentuk yang saling terhubung membuat seluruh bagian karya terasa sebagai satu pengalaman yang utuh.

Kontras
Perbedaan antara bidang gelap dengan warna biru dan emas membuat bagian musik lebih menonjol.

Gradasi
Perubahan intensitas warna pada beberapa bidang memberikan kesan pergerakan dan membuat warna tidak terlihat datar.

Penekanan
Aliran not musik menjadi focal point karena merupakan simbol utama dari pengalaman yang diangkat.

Makna Utama
Karya “Nada yang Tinggal” tidak dimaksudkan hanya untuk mengatakan bahwa saya menyukai bernyanyi.
Maknanya lebih luas.
Saya tidak sedang melukiskan sebuah penampilan, tetapi melukiskan kenangan tentang bagaimana musik pernah membuat saya berani, bahagia, dan percaya pada sesuatu yang saya sukai.
Lukisan ini bukan sekadar gambaran tentang masa ketika saya tampil di televisi. Lukisan ini merupakan jejak dari sebuah pengalaman masa kecil yang sampai sekarang masih memiliki arti.
“Nada yang Tinggal” adalah tentang sesuatu yang mungkin sudah berlalu dalam waktu, tetapi tidak sepenuhnya pergi dari dalam diri.

Karya: Zifana Syahla Syahira
Kelas: XI-A

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait