Judul : Nama di Papan Tulis
Dibuat oleh : Ani Sadilla Febrianti
Aku orang terakhir yang masih ada di kelas sore itu. Guru sudah pergi, dan teman-teman juga satu per satu pulang. Aku tinggal karena harus menghapus tulisan di papan sebelum kelas dikunci. Saat mengambil penghapus, aku melihat satu nama kecil di pojok kanan papan, yaitu “Nadia”. Cuma itu. Aku sempat berpikir ada yang iseng.
Besok paginya, nama itu masih ada. “Siapa sih yang nulis nama Nadia?” tanyaku. Rani melihat papan sebentar, lalu menjawab, “Paling anak-anak. Nadia juga sering nulis nama sendiri di mana-mana.” Aku mengangguk, lalu menghapusnya. Namun, siangnya nama itu muncul lagi, kali ini di tempat yang berbeda. “Nadia.” Aku kesal dan bertanya, “Ini siapa yang nulis?” Tidak ada yang menjawab, jadi aku menghapusnya lagi.
Hari ketiga, nama itu muncul untuk ketiga kalinya. Aku akhirnya sengaja menunggu setelah kelas selesai. Benar saja, sekitar lima menit kemudian, seorang anak masuk. Anak itu adalah Nadia. Dia berjalan ke papan tulis, mengambil spidol, lalu menulis namanya sendiri di pojok. Aku langsung menghampirinya dan bertanya, “Ngapain kamu tulis nama sendiri terus?” Nadia terdiam, lalu menjawab, “Biar ada yang ingat.” Aku mengernyit dan bertanya, “Lah, emang kenapa?” Dia tersenyum kecil dan berkata, “Besok aku pindah sekolah.”
Aku baru sadar kenapa sejak beberapa hari terakhir dia lebih sering diam. “Oh…” Nadia menutup spidol, lalu berkata, “Jangan bilang siapa-siapa dulu.” Aku mengangguk. Sebelum pergi, dia melihat tulisannya sekali lagi dan berkata, “Kalau besok aku nggak ada, hapus aja.”
Aku menatap namanya. Besoknya, aku datang lebih pagi dari biasanya. Nama itu masih ada di papan, tetapi kali ini aku tidak menghapusnya. Aku malah mengambil spidol dan menulis satu kalimat kecil di bawahnya: “Tenang, Nad. Masih ada yang ingat.”
