1000340662
OKTOBER PERTAMA DARI BALIK PAGAR RAM KAWAT

OKTOBER PERTAMA DARI BALIK PAGAR RAM KAWAT
Asifudin HD 
 
Hari pertama Oktober jatuh sebagai jatuhan air yang dingin,
membasuh pot-pot hitam dan barisan daun yang menolak layu.
Lorong beton ini mengilat, memantulkan langit yang abu-abu,
sementara di seberang pagar kawat, riuh dunia pelan-pelan diredam kabut.
 
Pernah ada satu waktu yang enggan dicatat oleh arloji:
ketika jarak di antara kita menyempit hingga beberapa senti,
dan di balik sekat dada kita masing-masing,
sepasang jantung berdentum liar, menjelma genderang perang yang saling bertaut.
Kita ringkih, kita gigil, namun kita memilih diam—
bersembunyi di balik riuh rintik, berpura-pura pasrah menunggu reda.
 
Kini, kursi itu kosong dan kau telah melangkah melampaui garis horizon.
Namun ini sama sekali bukan tentang sebuah kepindahan,
bukan pula tentang hilangnya bayangmu dari sudut koridor ini.
 
Ini tentang sisa kehadiranmu yang terlanjur mengkristal di udara.
Kenangan yang kau tinggalkan tidak runtuh seperti hujan ke tanah,
ia justru mendirikan dinding-dinding kaca yang dingin,
menjelma penjara tak kasat mata yang mengepung batin.
 
Aku memang masih berada di sini, di bawah atap yang sama.
Mataku masih mampu mengeja setiap genangan yang pecah dihantam rintik,
telingaku masih awas menangkap simfoni air yang jatuh di atas ubin basah.
 
Namun tepat ketika gerimis pertama Oktober ini menyentuh kulit,
aku menyadari satu hal yang paling sunyi:
aku bisa melihat dan mendengar segalanya,
kecuali genggaman tanganmu… yang telah kehilangan seluruh koordinatnya.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait