Cerita-Payung-yang-Tertinggal-1-1
payung yang tertinggal

Hujan turun deras saat bel pulang berbunyi. Raka melihat sebuah payung hitam tertinggal di depan kelas. Ia mengenalinya sebagai milik Dimas.

Tak lama kemudian, Dimas datang dengan wajah panik.

“Rak, kamu lihat payungku?”

“Ini, tadi tertinggal di depan kelas,” jawab Raka.

Dimas menerima payung itu, tetapi tiba-tiba berkata, “Sebenarnya, aku sengaja meninggalkannya.”

Raka heran. “Kenapa?”

Dimas membuka payung tersebut. Di dalamnya terdapat sebuah amplop kecil.

“Buka saja. Itu untukmu.”

Raka membuka amplop itu dan menemukan sebuah pesan: “Terima kasih sudah selalu membantuku. Tetaplah menjadi teman yang baik.”

Raka terkejut. “Jadi, kamu yang selama ini memberi semangat kepadaku?”

Dimas tersenyum. “Iya. Aku tahu kamu sering takut menghadapi ujian.”

Raka tersenyum. Ia menyadari bahwa payung itu bukan sekadar benda yang tertinggal, melainkan cara sederhana Dimas menunjukkan rasa terima kasihnya.

Sejak saat itu, Raka percaya bahwa perhatian kecil dapat memberikan arti yang besar.

 

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait