18625afc18724e19e7bdea928bb07cc2
Pelanggan Tetap

Dibuat oleh:Afif N.A

Kelas:11-F

Pelanggan Tetap

Setiap kali Wi-Fi sekolah mati, ada satu kebiasaan yang hampir selalu muncul di kelas. Raka akan segera berpindah dari satu meja ke meja lain untuk mencari hotspot.

Tujuan pertamanya biasanya Dimas.

“Hotspot dong, Dim.”

Dimas sering kali menolak karena sedang menggunakan kuotanya sendiri. Namun, penolakan itu tidak pernah membuat Raka berhenti. Ia akan berpindah ke Fajar dengan alasan yang hampir selalu sama, bahwa ia hanya membutuhkan internet sebentar.

Fajar biasanya lebih mudah luluh. Raka pun akan kembali ke tempat duduknya setelah mendapatkan sambungan internet.

Kebiasaan tersebut terjadi berkali-kali. Bahkan, Raka seolah sudah mengetahui siapa yang paling mudah dimintai hotspot. Dimas menjadi pilihan pertama karena kuotanya cukup besar, sedangkan Fajar menjadi pilihan kedua karena lebih mudah merasa tidak enak ketika menolak.

Suatu hari, Wi-Fi sekolah kembali mati. Raka melakukan hal yang sama. Ia mendatangi Dimas, kemudian Fajar. Setelah mendapatkan hotspot, ia langsung menggunakan ponselnya dengan tenang.

Dimas yang penasaran akhirnya melihat layar ponsel Raka. Tidak seperti dugaan mereka, kuota Raka ternyata masih sangat banyak.

“Lah, kuota lu masih banyak.”

Raka hanya tersenyum dan kembali menggunakan ponselnya.

Barulah kebiasaan itu terlihat berbeda. Selama ini, Dimas dan Fajar mengira Raka selalu meminta hotspot karena tidak memiliki kuota. Kenyataannya, Raka justru memiliki kuota yang cukup untuk digunakan sendiri.

Ia hanya tidak mau menghabiskannya.

Dimas dan Fajar ternyata bukan sekadar teman yang sesekali dimintai bantuan. Mereka sudah menjadi bagian dari rencana Raka setiap kali Wi-Fi sekolah mati.

Satu orang menolak, masih ada pilihan berikutnya.

Dua orang menolak, masih ada pilihan lain.

Bagi Raka, masalah Wi-Fi sekolah bukanlah masalah besar.

Selama masih ada teman yang bisa dijadikan hotspot, kuotanya sendiri akan tetap aman.

Dan tanpa mereka sadari, Dimas dan Fajar bukan lagi sekadar teman sekelas.

Mereka telah berubah menjadi paket data berjalan.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait