PERAGAAN BENTUK
Asifudin HD
Ada doa yang mengendap
di dalam sepotong rindu yang retak.
Ketika aku diam, kau diam
kita menjadi dua paradoksal yang saling kesal.
Ketika aku berisik, kau asik
menikmati kegelisahanku sebagai pertunjukan.
Dan ketika kita bertemu, kita kembali bisu
menimbun percakapan di bawah sol sepatu.
“Sebab jika kerinduan ini kuperagakan,
jadilah ia napsu.”
Tubuh kita terlalu sempit
untuk menampung rindu yang kelewat padat.
Maka kubiarkan ia tinggal di dalam teks:
merapikan jemari yang ingin menyentuhmu,
menjinakkan desah yang ingin merobek sunyi,
menjelma huruf-huruf yang sopan di atas kertas,
agar rindu ini tetap menjadi doa,
sebelum raga kita bertindak gegabah.
