Rahasia di Bawah Meja
Begitu bel masuk berbunyi dan guru belum tiba, ruang kelas 11-G terasa kurang nyaman. Bungkus makanan ringan dan botol minuman plastik berserakan di bawah kursi serta terselip di dalam laci meja. Petugas piket hari itu mengeluh sambil terburu-buru menyapu, kewalahan membersihkan sampah yang terus ditinggalkan teman-temannya. Seharusnya, sampah-sampah itu dibawa atau dibuang sendiri oleh pemiliknya.
Kondisi makin parah ketika aroma tak sedap yang menyengat mulai menyeruak dari arah belakang kelas. Sebagian siswa langsung menuduh rasa malas teman-temannya yang sering menyembunyikan sisa makanan hingga menumpuk dan membusuk di laci. Semua orang merasa kebersihan kelas diabaikan hanya karena menganggapnya sebagai tanggung jawab seksi kebersihan dan petugas piket pada hari itu.
“Siapa sih yang taruh makanan busuk di lacinya? Bau banget!” seru Maya sambil menutup hidungnya.
Dino, yang duduk di barisan paling belakang, hanya menunduk dengan wajah memerah. Saat petugas piket mendekati mejanya untuk menyapu, Dino refleks menahan laci mejanya rapat-rapat. Rasa bersalah menumpuk di dadanya.
Ketika kelas sepi saat jam istirahat kedua, Dino pelan-pelan merogoh laci mejanya. Ia mengeluarkan sebuah kotak makan kecil berisi kue bolu yang sudah lembap dan berbau aneh. Itu adalah kue pertama yang ia buat semalaman untuk merayakan ulang tahun sahabatnya, tetapi bentuk dan rasanya gagal total. Karena malu dan tidak sempat membuangnya keluar, jadi ia menyembunyikannya di laci meja.
Dari kejadian hari itu, Dino menyadari bahwa menjaga kebersihan meja sendiri bukan hanya soal aturan sekolah. Kebersihan dan kenyamanan ruang belajar adalah tanggung jawab setiap murid yang ada di dalamnya. Mengakui kesalahan dan merawat kebersihan tempat duduk sendiri mencerminkan rasa kepedulian serta kesadaran demi kenyamanan belajar bersama.