045235700_1689928881-shutterstock_2010283607-1
sampah plastik musuh terbesar kelas

  judul : “sampah plastik musuh terbesar kelas” 

*FIKSI MINI 250 – 400 KATA*

 

Selama 10 menit pengamatan di kelas, Sinta melihat banyak bungkus plastik jajanan berserakan di kolong meja dan pojok kelas. Padahal aturannya jelas, sampah bekas harusnya dibawa pulang agar kelas tetap bersih.

 

Sinta yang piket hari itu menghela nafas. Di sebelahnya, Laia baru selesai jajan dan meletakkan bungkusnya di kolong bangkunya.

 

“La, kenapa kamu taruh di situ sih?” kata Sinta.

 

“Kan semua juga gitu. Nanti juga ada yang nyapu” jawab Laia.

 

Sinta kesal “Itu masalahnya. Teman-teman sudah terbiasa buang di kolong dan sudut kelas karena malas dan tidak ada kesadaran diri. Kalau dibiarkan, kelas yang bersih dan nyaman akan jadi kotor dan tidak nyaman.”

 

Laia terdiam. Ia menatap bungkus di kakinya.

 

Lima menit kemudian, saat Sinta menyapu, Laia tiba-tiba berdiri dan memungut semua sampah di kolong mejanya. Tidak hanya punya dia, tapi punya orang lain juga. Ia memasukkan ke tas kresek.

 

“Loh, kamu kok jadi pungut?” tanya Sinta kaget

 

Laia tersenyum. “Aku sengaja taruh jadi biar aku tau rasanya jadi pengotor ternyata gak enak dilihat”

 

Sinta terdiam melihat kresek itu penuh. Tidak ada yang menyuruh, tidak ada yang melihat, Laia melakukannya sendiri. Padahal tadi ia yang paling cuek. Kelas yang tadinya penuh plastik kini perlahan kosong karena satu orang berhenti menunda.

 

Semua orang mengira Laia adalah penyebab kelas kotor. Padahal dialah yang pertama memulai membersihkan.

 

Sore itu kolong meja Laia jadi yang paling bersih. Satu langkah kecil yang tertunda akhirnya berani jalan duluan, dan meninggalkan kesan bahwa kebersihan hanya butuh satu orang untuk memulai. Langkah yang tertunda itu akhirnya menjadi langkah pertama yang paling berarti untuk semua orang di kelas itu hari ini.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait