97c10ab2-af09-4066-8e5b-fb0d6c25df7d
satu ejekan yang membekas


judul : satu ejekan yang membekas 
Di buat oleh : kansha zahroulmalihah 

Pagi itu, suasana kelas XI-B terlihat ramai seperti biasanya. Semua siswa sedang berbincang sebelum pelajaran dimulai. Namun, seorang siswi bernama Rani hanya duduk diam di bangkunya. Beberapa teman sekelasnya sering mengejek penampilannya dan menjadikannya bahan tertawaan.

Awalnya, Rani menganggap ejekan tersebut hanya bercanda. Namun, lama-kelamaan teman-temannya semakin keterlaluan. Mereka bahkan menertawakan Rani di depan siswa lain. Setiap kali hal itu terjadi, Rani merasa sedih dan malu. Ia mulai kehilangan semangat belajar dan lebih sering menyendiri saat jam istirahat.

Suatu hari, Dinda, teman sekelas Rani, melihat beberapa siswa mengejek Rani di belakang kelas. Dinda merasa tindakan tersebut tidak pantas. Ia kemudian menghampiri Rani dan mengajaknya berbicara. Setelah mengetahui semuanya, Dinda menyarankan Rani untuk melaporkan kejadian itu kepada wali kelas.

Wali kelas segera menindaklanjuti masalah tersebut. Beliau menasihati para siswa agar memahami bahwa setiap orang memiliki perasaan yang harus dihargai. Beliau juga menjelaskan bahwa ejekan yang dianggap bercanda bisa menyakiti hati orang lain. Siswa yang melakukan bullying diminta bertanggung jawab dan memperbaiki sikap mereka.

Sejak kejadian itu, para siswa mulai belajar untuk saling menghormati. Rani perlahan kembali percaya diri dan berani bergaul dengan teman-temannya. Ia menyadari bahwa dirinya tidak sendirian karena masih ada orang yang peduli kepadanya.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait