1000435609-5
Sengatan di Keheningan

Sengatan di Keheningan 

Ruang kelas seketika senyap saat seekor lebah berukuran besar tiba-tiba masuk melalui celah jendela yang terbuka. Dengungan rendah dari sayapnya memecah keheningan ujian yang sedang berlangsung dengan sangat ketat. Mahkluk kecil bergaris kuning hitam itu terbang berputar-putar di udara, menciptakan ketegangan. Hingga akhirnya, lebah itu meluncur rendah dan hinggap tepat di punggung Widia. Gadis itu tidak menyadarinya.

Raisa, yang kebetulan duduk tepat di bangku belakang Widia, menyadari situasi berbahaya tersebut. Tanpa memberikan aba-aba atau peringatan apa pun, ia langsung berdiri dari kursinya. Plak! Sebuah hantaman yang cukup keras dari buku paket yang tebal mendarat telak di bagian tengkuk Widia.

Widia terpekik kaget, air matanya hampir saja tumpah karena perpaduan rasa sakit dan terkejut yang luar biasa. Rifa, teman sebangku Widia , langsung berdiri dengan wajah panik dan berteriak menuduh.

“Raisa! Apa yang kamu lakukan? Jangan bertindak kasar begitu di tengah ujian!” Seru Rifa dengan nada tinggi hingga membuat seisi kelas gempar.

“Maaf, aku sama sekali tidak bermaksud mengamuk atau berbuat kasar”, ujar Raisa dengan nada suara yang tetap tenang seraya perlahan mengangkat buku tebalnya.

Semua orang di dalam kelas, termasuk Rifa, mengira Raisa sengaja memukul Widia karena ingin berbuat usil atau meluapkan kekesalan pribadi. Padahal sebenarnya, di balik sampul buku tebal itu, seekor lebah besar sudah terkapar mati dengan jarum sengat yang hampir saja menembus kulit. Raisa sengaja menjepitnya tepat satu milidetik sebelum mahkluk tersebut menyengat leher Widia yang sangat sensitif terhadap alergi serangga.

Widia perlahan menoleh kebelakang, matanya langsung melebar saat melihat bangkai lebah yang terjatuh di atas meja Raisa. Rasa sakit di tengkuknya seketika menguap, bergantung menjadi rasa bersalah sekaligus lega yang teramat sangat. 

“Terima kasih, Raisa. Maaf aku dan Rifa sempat salah sangka padamu,” bisik Widia dengan suara yang lirih dan bergetar.

Raisa hanya memberikan senyum tipis, lalu kembali duduk dengan tenang untuk melanjutkan mengisi lembar jawaban ujiannya seolah tidak terjadi hal besar. Rifa pun perlahan kembali duduk dengan wajah memerah, menyadari bahwa prasangka buruknya telah keliru menghadapi aksi penyelamatan yang cepat itu.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait