Seragam yang Salah
Pagi itu, suasana kelas XI-R cukup ramai. Beberapa siswa baru saja duduk ketika Arunika masuk dengan wajah terburu-buru. Hal pertama yang diperhatikan teman-temannya adalah seragam yang dipakainya, karena berbeda dari seragam siswa lainnya.
“Runi, kamu salah seragam?” tanya Nareswara sambil menahan tawa.
Arunika berhenti di depan pintu. Ia melihat seragam teman-temannya, lalu melihat seragamnya sendiri.
“Iya… kayaknya aku salah lihat jadwal,” jawabnya singkat.
Beberapa siswa mulai tertawa kecil. Arunika hanya tersenyum canggung dan segera duduk di tempatnya. Namun, sejak masuk kelas, ia terlihat tidak nyaman. Ia beberapa kali merapikan lengan bajunya sambil berharap tidak ada lagi yang membahas seragamnya.
Saat guru belum datang, Nareswara menghampirinya.
“Kalau salah seragam, kenapa kamu kelihatan panik banget?” tanyanya.
Arunika diam sebentar sebelum menjawab, “Jangan bilang siapa-siapa, ya.”
Nareswara mengangguk. Arunika kemudian menjelaskan bahwa semalam ia begadang mengerjakan tugas sekolah hingga larut malam. Karena terlalu lelah, ia lupa memeriksa jadwal seragam untuk hari itu. Pagi harinya, ia terburu-buru berangkat ke sekolah tanpa menyadari kesalahannya.
“Terus, kamu baru sadar sekarang?” tanya Nareswara.
“Iya, pas lihat seragam teman-teman. Aku malu banget, apalagi sudah terlanjur sampai sekolah,” jawab Arunika.
Nareswara yang awalnya ingin menertawakan Arunika justru terdiam. Ia baru menyadari bahwa kesalahan kecil bisa terjadi kepada siapa saja. Ia pun merasa tidak enak karena sempat menganggap Arunika ceroboh.
Tak lama kemudian, guru masuk ke kelas. Arunika menjelaskan kesalahannya dan meminta maaf karena tidak memakai seragam sesuai jadwal. Guru mengingatkannya agar lebih teliti lain kali, lalu mempersilakannya mengikuti pelajaran seperti biasa.
Saat Arunika duduk kembali, Nareswara berbisik, “Maaf, ya, tadi aku ikut menertawakan kamu.”
Arunika tersenyum kecil. “Nggak apa-apa. Lain kali, jangan langsung menilai orang sebelum tahu alasannya.”
Nareswara mengangguk pelan. Hari itu, ia menyadari bahwa di balik kesalahan yang terlihat sederhana, bisa ada alasan yang tidak diketahui orang lain. Terkadang, memahami seseorang jauh lebih baik daripada menjadikannya bahan tertawaan.
