SIMULAKRA GALERI FOTO LAMA
Asifudin HD
Jean Baudrillard pernah memperingatkan kita
tentang dunia yang pelan-pelan digantikan
oleh tiruannya sendiri.
Simulakra, sebutnya.
Sebuah panggung besar
di mana gambar terasa lebih nyata dari benda,
dan kepura-puraan bekerja begitu rapi
sampai kita lupa bentuk asli dari kejujuran.
Hampir jam empat pagi.
Aku membolak-balik galeri di ponsel,
menatap foto kita dua tahun lalu di sebuah kedai kopi.
Di sana kita tersenyum lebar.
Pencahayaannya pas. Keterangannya puitis.
Orang-orang memberi tanda suka,
dan kita merasa sedang baik-baik saja.
Padahal aku ingat betul malam itu.
Di balik senyum yang dikurasi itu,
kita sebenarnya sudah kehabisan bahan pembicaraan.
Kita sibuk menatap layar masing-masing,
menghindari mata satu sama lain
yang menyimpan lelah yang tak sanggup diakui.
Foto itu bohong.
Tapi anehnya, hanya foto itu yang tersisa.
Baudrillard mungkin benar,
kita sudah lama kehilangan yang asli.
Tapi yang tidak pernah ia tulis adalah rasa perih ini:
ketika kita tahu sebuah kenangan itu rekaan,
namun di tengah malam yang hening begini,
hanya kebohongan itu
satu-satunya hal indah yang masih bisa dipeluk.
