1000344157
SIMULAKRA GALERI FOTO LAMA

SIMULAKRA GALERI FOTO LAMA

Asifudin HD 

 

Jean Baudrillard pernah memperingatkan kita

tentang dunia yang pelan-pelan digantikan

oleh tiruannya sendiri.

 

Simulakra, sebutnya.

 

Sebuah panggung besar

di mana gambar terasa lebih nyata dari benda,

dan kepura-puraan bekerja begitu rapi

sampai kita lupa bentuk asli dari kejujuran.

 

Hampir jam empat pagi.

 

Aku membolak-balik galeri di ponsel,

menatap foto kita dua tahun lalu di sebuah kedai kopi.

Di sana kita tersenyum lebar.

Pencahayaannya pas. Keterangannya puitis.

Orang-orang memberi tanda suka,

dan kita merasa sedang baik-baik saja.

 

Padahal aku ingat betul malam itu.

 

Di balik senyum yang dikurasi itu,

kita sebenarnya sudah kehabisan bahan pembicaraan.

Kita sibuk menatap layar masing-masing,

menghindari mata satu sama lain

yang menyimpan lelah yang tak sanggup diakui.

 

Foto itu bohong.

Tapi anehnya, hanya foto itu yang tersisa.

 

Baudrillard mungkin benar,

kita sudah lama kehilangan yang asli.

Tapi yang tidak pernah ia tulis adalah rasa perih ini:

ketika kita tahu sebuah kenangan itu rekaan,

namun di tengah malam yang hening begini,

hanya kebohongan itu

satu-satunya hal indah yang masih bisa dipeluk.

 

 

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait