STATUSNYA SIBUK, BETULKAH SIBUK?
Oleh Asifudin HD
“Saya sebenarnya ingin menulis, tetapi sedang sibuk.”
Kalimat itu terdengar sangat masuk akal. Bahkan terlalu masuk akal. Kita semua pernah menggunakannya. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan, rapat yang harus dihadiri, tugas sekolah yang menunggu, keluarga yang membutuhkan perhatian, perjalanan yang harus ditempuh, pesan yang belum dibalas, dan entah berapa banyak urusan lain yang muncul seperti notifikasi ponsel: satu selesai, tiga datang.
Sibuk memang nyata.
Tetapi ada satu pertanyaan kecil yang kadang tidak nyaman ditanyakan: betulkah kita sibuk, atau kita hanya sedang menggunakan sibuk sebagai alasan?
Pertanyaan ini bukan untuk menghakimi orang yang banyak pekerjaan. Justru sebaliknya. Kesibukan yang benar-benar terjadi sebenarnya bisa menjadi bahan bakar tulisan. Masalahnya, kita sering melihat kesibukan sebagai musuh menulis, padahal di dalam kesibukan itu terdapat begitu banyak cerita.
Kita mengajar dari pagi sampai siang. Itu sibuk.
Tetapi di dalam kelas ada puluhan wajah, percakapan, kebiasaan, kelucuan, kegagalan, keberhasilan, pertanyaan aneh, jawaban mengejutkan, siswa yang diam-diam berjuang, dan kejadian kecil yang mungkin tidak akan pernah masuk ke buku pelajaran.
Itu semua bahan tulisan.
Kita menghadiri rapat. Sibuk.
Tetapi di dalam rapat ada keputusan, perdebatan, kesepakatan, perbedaan pendapat, seseorang yang terus mencatat, seseorang yang selalu datang terlambat, seseorang yang banyak bicara tetapi lupa pada tugasnya sendiri. Bahkan notulen rapat pun dapat menjadi pintu menuju tulisan tentang bagaimana manusia mengambil keputusan.
Kita perjalanan menuju sekolah. Sibuk.
Tetapi jalan yang sama setiap hari sebenarnya tidak pernah benar-benar sama. Ada pedagang yang membuka lapak sebelum matahari tinggi, pengemudi yang selalu berhenti di tempat tertentu, anak sekolah yang berlari mengejar kendaraan, tukang parkir yang hafal kendaraan pelanggan, atau warung kecil yang perlahan berubah karena harga kebutuhan naik.
Kalau kita mau memperhatikan, perjalanan menuju tempat kerja saja bisa menjadi satu buku kecil.
Jadi persoalannya mungkin bukan pada kesibukan.
Persoalannya ada pada cara kita melihat kesibukan.
Ketika sibuk dijadikan alasan, ia bekerja seperti pintu yang dikunci dari dalam.
“Saya sibuk, jadi tidak mungkin menulis.”
Kalimat itu sudah menutup kemungkinan sebelum kemungkinan sempat mengetuk.
Tetapi ketika sibuk benar-benar dijalani sebagai pengalaman, kalimatnya berubah.
“Saya sibuk. Apa yang bisa saya lihat dari semua kesibukan ini?”
Di situlah pintu terbuka.
Menulis tidak selalu membutuhkan waktu kosong. Kadang justru membutuhkan perhatian di tengah waktu yang penuh.
Seorang guru yang sedang mengoreksi tugas menemukan kalimat siswa yang membuatnya tertawa. Mengapa kalimat itu lucu? Bisa ditulis.
Seorang siswa yang sedang mengerjakan tugas kelompok melihat satu temannya selalu menjadi orang yang bekerja paling banyak. Mengapa demikian? Bisa ditulis.
Seseorang yang sedang menunggu antrean melihat semua orang sibuk menatap layar ponsel. Mengapa kita begitu takut menunggu tanpa melakukan apa-apa? Bisa ditulis.
Seseorang terlambat datang karena hujan. Ia kemudian melihat jalanan, kendaraan, genangan, orang-orang yang berteduh, dan pedagang yang justru mendapatkan pembeli lebih banyak. Hujan tidak hanya membuatnya terlambat. Hujan memberinya bahan.
Kesibukan dengan demikian bukan sekadar jumlah pekerjaan yang kita miliki. Kesibukan adalah ruang tempat berbagai kejadian berlangsung.
Dan seorang penulis hidup dari kejadian.
Kita sering membayangkan penulis sebagai orang yang duduk sendirian di depan laptop, ditemani kopi, musik, dan suasana tenang. Gambaran itu boleh saja. Tetapi menulis tidak selalu lahir dari ruangan yang sunyi.
Kadang tulisan lahir dari ruang guru yang berisik.
Dari halte yang penuh orang.
Dari kelas yang belum tenang.
Dari antrean panjang.
Dari perjalanan pulang.
Dari percakapan lima menit di kantin.
Dari kesalahan mengetik pesan.
Dari seseorang yang tiba-tiba mengatakan sesuatu yang terus teringat sampai malam.
Hidup sebenarnya tidak pernah berhenti menyediakan bahan tulisan. Kitalah yang sering berhenti menganggapnya sebagai bahan.
Ada perbedaan antara tidak punya waktu dan tidak menyediakan perhatian.
Kita mungkin memang tidak memiliki dua jam untuk duduk dan menulis. Tetapi mungkin kita memiliki sepuluh menit untuk mencatat sesuatu. Kita mungkin tidak bisa menyelesaikan satu artikel hari ini. Tetapi kita bisa menyimpan satu paragraf. Kita mungkin belum bisa menulis satu cerita utuh. Tetapi kita bisa mencatat satu dialog yang kita dengar.
Tulisan tidak selalu lahir sekaligus.
Kadang ia dikumpulkan sedikit demi sedikit seperti uang receh dalam celengan.
Satu pengamatan hari ini.
Satu kalimat besok.
Satu pertanyaan lusa.
Satu kejadian minggu depan.
Ketika semuanya bertemu, kita baru sadar bahwa ternyata kita sudah memiliki bahan tulisan.
Karena itu, orang yang sibuk sebenarnya memiliki keuntungan yang sering tidak disadari: ia berhadapan dengan lebih banyak kehidupan.
Semakin banyak aktivitas, semakin banyak peristiwa yang mungkin diamati.
Tentu saja bukan berarti semakin sibuk seseorang, semakin banyak pula tulisannya. Tidak sesederhana itu. Kesibukan tanpa pengamatan hanya menghasilkan lelah. Kesibukan dengan pengamatan menghasilkan pengalaman. Dan pengalaman yang dicatat dapat berubah menjadi tulisan.
Di sinilah literasi tidak berhenti pada membaca buku.
Literasi juga berarti membaca kehidupan.
Membaca orang yang kita temui.
Membaca tempat yang kita datangi.
Membaca perubahan suasana.
Membaca percakapan.
Membaca masalah.
Bahkan membaca diri sendiri ketika sedang kelelahan.
Sebab, bisa jadi, pengalaman paling sibuk dalam hidup kita justru menyimpan pertanyaan yang belum pernah kita tuliskan.
Mengapa kita bekerja begitu keras?
Mengapa kita selalu merasa tidak punya waktu?
Mengapa setelah seharian melakukan banyak hal kita masih merasa tidak melakukan sesuatu yang berarti?
Mengapa kita bisa berjam-jam menggulir layar, tetapi merasa lima belas menit menulis adalah pekerjaan yang terlalu berat?
Pertanyaan semacam itu tidak harus langsung dijawab.
Tuliskan dulu.
Barangkali dari situlah sebuah esai dimulai.
Jadi, lain kali ketika seseorang berkata, “Saya sibuk, tidak sempat menulis,” jangan buru-buru membantahnya.
Mungkin ia memang sedang sangat sibuk.
Tetapi kalau kita sendiri yang mengucapkannya, ada baiknya kita bertanya sekali lagi kepada diri sendiri:
Sibuk sebagai alasan atau sibuk sebagai pengalaman?
Jika sibuk menjadi alasan, kita sedang menutup kemungkinan.
Jika sibuk benar-benar kita jalani, kita sedang dikelilingi kemungkinan.
Kemungkinan untuk mengamati.
Kemungkinan untuk bertanya.
Kemungkinan untuk menemukan cerita.
Kemungkinan untuk menyimpan kalimat.
Kemungkinan untuk menghasilkan tulisan.
Mungkin kita memang tidak punya banyak waktu.
Tetapi selama kita masih punya mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, pikiran untuk bertanya, dan tangan untuk mencatat, sebenarnya kita belum kehabisan bahan.
Kita hanya perlu berhenti sebentar dari kesibukan untuk menyadari bahwa kesibukan itu sendiri sedang bercerita.
Dan barangkali, tulisan yang selama ini kita tunggu bukan sedang bersembunyi di waktu luang.
Ia sedang berlari bersama kita dari satu kesibukan ke kesibukan berikutnya.
