Pagi dingin.Sore kelabu. Malam senyap.
Entah sejak kapan kursi itu kosong.
Mungkin dari sore itu.
Saat bapak melukis karya terbaiknya.
Melukis potret terbaik dirinya.
Dengan kepala mekar memunculkan bunga-bunga merah.Tubuhnya menari indah.
Hari ini mungkin sudah tepat tujuh tahun berlalu.
Hari saat bapak pamit kerja dan tak pernah pulang.
Ku terduduk di kasur memandang kenangan itu dengan takut dan haru.
Ku beranjak dari kasur menuju tempat sunyi itu lagi.
Meja makan.
Tempat ku menyantap sepi.
Namun ditengah perjalanan ku, benda asing menyerang.
*Buk*
Sebuah buku tebal bersampul kulit dan debu jatuh ke atas leherku begitu saja
Buku ini datang tiba-tiba entah dari mana.
Ku bertanya dalam hati
” Buku apa ini? Kitab sun gokong”
Rasa penasaran menyerbu dadak, ku buka buku itu lembar demi lembar.
Lembar pertama kosong. Kedua kosong. Ketiga kosong juga.
Saat rasa penasaranku sudah kecewa dan ingin bubar, tiba-tiba secarik kertas melayang keluar.
Surat untuk Ila
Ila pelita kecilku.
Penerus saat ku hilang biru .
Semoga kau tak gila aman waras sentosa.
Maaf jika bapak tak ber panca indra.
Bapak selalu disini.
Siap kau santap bersama sepi