Di buat oleh: Kirana Khairun Nisa
Di era digital, media sosial sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari para remaja. Melalui layar ponsel, mereka dapat melihat berbagai aktivitas orang lain, mulai dari liburan, nongkrong di kafe, hingga membeli barang-barang terbaru. Namun, tanpa disadari, kebiasaan tersebut dapat menimbulkan perasaan takut tertinggal atau yang dikenal sebagai Fear of Missing Out (FOMO).
Salah satu siswa bernama Dinda mulai merasakan hal tersebut. Setiap membuka media sosial, ia melihat teman-temannya mengunggah momen menyenangkan. Dinda merasa kehidupannya membosankan karena tidak bisa melakukan hal yang sama. Ia pun mulai memaksakan diri untuk membeli barang yang sedang tren dan ikut berkumpul meskipun sebenarnya tidak ingin.
Akibatnya, uang jajannya cepat habis dan waktu belajarnya berkurang. Ia juga merasa gelisah ketika tidak membuka media sosial karena takut melewatkan sesuatu yang sedang ramai dibicarakan. Bahkan, Dinda sering membandingkan dirinya dengan teman-temannya hingga merasa kurang percaya diri.
Suatu hari, sahabatnya mengingatkan bahwa kehidupan di media sosial tidak selalu menggambarkan kenyataan. Tidak semua orang selalu bahagia seperti yang terlihat dalam unggahannya. Sahabatnya juga mengatakan bahwa Dinda tidak perlu mengikuti semua tren hanya untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain.
Sejak saat itu, Dinda mulai mengurangi waktu bermain ponsel dan lebih fokus pada kehidupannya sendiri. Ia mencoba melakukan kegiatan yang disukainya, seperti membaca buku, membantu orang tua, dan menghabiskan waktu bersama keluarga.
Dinda akhirnya memahami bahwa kebahagiaan tidak harus mengikuti tren atau menyamai kehidupan orang lain. Ia belajar bahwa setiap orang memiliki jalan hidup dan waktunya masing-masing. Kini, Dinda lebih menghargai dirinya sendiri dan tidak lagi merasa harus mengikuti semua hal yang sedang populer.
judul:terjebak dalam fomo