1000340350
TUMBUH MELAWAN

Syifa Nuraeni

Kelas 11G
 
Menuju Cahaya (Pengalaman diri Siswa)
 
Tahun 2025 menjadi salah satu tahun terberat dan yang palıng membekas dalam hidupku. Saat dimana kondisi ekonomi keluargaku menurun hingga ke titik nadir dan menjadikannya kesulitan dalam berbagai hal. 
 
Bahkan sekadar untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari – hari. Tentu mengalami kondisi seperti itu tersebut sangatlah sedih, bingung,
takut dan kecewa bercampur jadi satu. Aku bertanya – tanyya dalam hati, mengapa aku harus mengalami hidup seperti ini?” 
 
Aku merasa sangat khawatir dengan keadaan tak terduga seperti ini, apa yang harus kuperbuat?. Namun di balik semua keadaan itu, aku yakin masih ada secercah harapan dalam diriku untuk melihat keadaan keluarga hari-hari ke depan menjadi membaik.
 
Seiring berjalanrnya waktu, rasa sedih dan takut perlahan berubah menjadi semangat untuk berjuarng dan tidak mudah menyerah.
Dari masa yang sulit itu, aku mulai memahami bahwa hidup tidak selaluberjalan sesuai dengan yang kita inginkan. Aku belajar untuk menerima keadaan dengan ikhlas, meskipun pada awalnya tidak mudah. 
 
Kesulitan yang aku alami perlahan mengubah caraku memandang kehidupan.
Dulu aku hanya melihat masalah dan merasa tidak berdaya, sekarang aku belajar untuk melihatnya sebagai alasan untuk terus berusaha. Aku ingin menjadi seseorang yang lebih kuat dan memiliki semangat untuk memperbaiki diri dan keluarga di masa depan.
 
Bagiku, pengalaman itu bukan hanya tentang masa sulit, pengalaman tersebut 
menjadı pelajaran berharga yang membentuk diriku menjadi seperti sekarang. 
 
Dan percayalah di ujung perjalanan yang penuh kesulitan itu, Tuhan sedang menyiapkan sesuatu untukku di ujung sana. Tinggal apakah aku kuat seperti pohon yang siap diterpa badai atau tidak.
 
Judul Lukisan: “TUMBUH MELAWAN”
 
Ukuran: 30 × 40 cm, vertikal
Media: cat akrilik, semen, lem
Teknik: mixed media, tekstur kasar, pisau palet/kuas, sapuan spontan
 
Gagasan utama
 
Lukisan ini menggambarkan seseorang yang hidup dalam zaman yang tidak selalu ramah. Tekanan ekonomi, tuntutan pekerjaan, kegagalan, perubahan keadaan, kehilangan, ketidakpastian masa depan, dan berbagai persoalan kehidupan digambarkan sebagai lingkungan kelabu yang mengitari sebuah pohon.
 
Pohon menjadi simbol manusia.
 
Ia tidak tumbuh dalam tanah yang ideal. Batangnya bengkok, kasar, gelap, bahkan seperti pernah terbakar. Namun ia masih berdiri.
 
Konsep lukisan:
Yang ingin aku sampaikan bahwa pohon itu diterpa keadaan saja, melainkan arah geraknya. Tajuknya tidak jatuh. Ia bergerak ke atas dan menyebar ke samping seperti seseorang yang terus mencari jalan keluar meskipun hidup berkali-kali memaksanya menunduk.
 
Sehingga, lukisan ini bukan sekadar tentang bertahan hidup, tetapi tentang mengambil kembali kendali atas hidup.
 
1. Batang: Tubuh yang Pernah Dihantam
 
Bagian batang menggunakan dominasi hitam, abu-abu, putih, dan sedikit cokelat tanah.
 
Batang dibuat kasar dengan semen dan lem sehingga permukaannya tidak rata. Ada bagian yang menggumpal, pecah, menonjol, bahkan tampak seperti luka.
 
Tekstur tersebut menjadi metafora:
 
masalah tidak selalu meninggalkan bekas yang indah.
 
Ada pengalaman hidup yang membuat seseorang lebih kuat, tetapi proses menjadi kuat itu sendiri sering kali tidak nyaman.
 
Batang yang bengkok juga penting. Jangan dibuat terlalu lurus.
 
Pohon yang lurus dapat berarti keteguhan.
 
Tetapi pohon yang bengkok namun tidak tumbang memiliki cerita yang lebih panjang.
 
Ia mengatakan:
 
Aku pernah dipaksa keadaan untuk berubah bentuk, tetapi tidak berhasil membuatku berhenti tumbuh.
 
2. Warna Hitam: Beban yang Tidak Bisa Diabaikan
 
Hitam bukan sekadar warna kesedihan.
 
Dalam lukisan ini hitam adalah beban.
 
Ia bisa dibaca sebagai kegagalan, ketakutan, tekanan, kemiskinan, kehilangan, tuntutan kehidupan, atau berbagai persoalan yang tidak selalu bisa diceritakan kepada orang lain.
 
Menariknya, hitam justru menjadi fondasi batang.
 
Artinya:
sesuatu yang pernah menghancurkan kita kadang justru menjadi bagian dari kekuatan kita.
 
3. Kuning: Bukan Sekadar Harapan
 
Menurutku, kuning adalah jantung lukisan ini.
 
Menggunakan kuning yang cukup kuat: yellow ochre, cadmium yellow atau campuran kuning dengan sedikit putih dan sedikit orange.
 
Kuning tersebut muncul dari batang kemudian bergerak ke atas.
 
Ini penting.
 
Jangan membuat kuning hanya sebagai warna daun.
 
Tetapi kuning terasa seperti energi yang keluar dari dalam batang.
 
Seolah-olah sesuatu di dalam diri manusia berkata:
 
Aku belum selesai.
 
Kuning menjadi simbol:
 
keberanian,
 
kesadaran,
 
daya hidup,
 
kemungkinan,
 
harapan,
 
dan kehendak untuk tetap bergerak.
 
Jika hitam adalah tekanan dari luar, maka kuning adalah jawaban dari dalam.
 
4. Gerakan Tajuk: Hidup yang Tidak Mau Diam
 
Bagian paling ekspresif adalah gerakan kuning dan putih di atas.
 
Sapuan kuas sebaiknya tidak terlalu rapi.
 
Biarkan beberapa garis bergerak:
 
dari bawah → ke atas → melebar → pecah → kembali menyatu.
 
Ini akan memberikan kesan bahwa pohon sedang diterpa sesuatu yang besar.
 
Namun ada paradoks:
 
semakin kuat tekanan, semakin liar pertumbuhannya.
 
Jadi gerakan pohon bukan gerakan menyerah.
 
Ia adalah gerakan melawan.
 
5. Latar Belakang: Zaman yang Membuat Orang Mudah Lelah
 
Bagian abu-abu di belakang sudah memiliki potensi besar.
 
Bentuk-bentuk vertikal di sana dimaksudkan sebagai simbol dunia modern yang kaku.
 
Bisa dibaca sebagai:
 
gedung,
 
pagar,
 
tembok,
 
sistem,
 
tekanan sosial,
 
pekerjaan,
 
aturan,
 
angka,
 
target,
 
bahkan manusia yang kehilangan bentuk individunya.
 
Tidak dibuat jelas sebagai gedung.
 
Untuk lebih menarik agar bentuknya ambigu.
 
Publik seni dapat bertanya:
 
Apakah itu kota?
 
Apakah itu tembok?
 
Atau sebenarnya itu kehidupan yang sedang mengepung manusia?
 
Abu-abu menjadi warna zaman.
 
Bukan hitam sepenuhnya, bukan putih sepenuhnya.
 
Zaman yang serba sulit sering tidak datang dengan wajah yang jelas.
 
Ia hadir sebagai tagihan, pekerjaan, tuntutan, berita buruk, kegagalan, perbandingan dengan orang lain, dan kecemasan tentang hari esok.
 
6. Tekstur Semen: Masalah yang Tidak Bisa Dihapus
 
Ini bagian yang menurutku bisa menjadi identitas teknik lukisanku.
 
Campuran semen dan lem tidak hanya digunakan sebagai hiasan tekstur.
 
Tetapi tekstur sebagai bagian dari gagasan.
 
Pada batang:
 
tekstur paling kasar.
 
Pada latar:
 
tekstur sedang dan vertikal.
 
Pada tajuk:
 
tekstur lebih cair dan bergerak.
 
Dengan begitu ada tiga karakter permukaan:
 
kasar → tertekan → bergerak.
 
Semen yang mengeras juga memiliki makna menarik:
 
Ada masalah yang tidak bisa kita hapus dari hidup. Yang bisa dilakukan adalah membangun sesuatu di atas bekasnya.
 
Biarkan penonton melihat bahwa luka itu memang pernah ada.
 
7. Putih: Ruang untuk Bernapas
 
Putih pada bagian tajuk bukan hanya dianggap sebagai highlight.
 
Ia menjadi simbol ruang batin.
 
Di tengah kehidupan yang penuh tekanan, manusia membutuhkan ruang untuk berhenti, berpikir, berdoa, membaca keadaan, kemudian memilih langkah.
 
Putih juga membuat kuning tidak menjadi sekadar warna dekoratif.
 
Kuning adalah energi.
 
Putih adalah kesadaran.
 
Hitam adalah tekanan.
 
Abu-abu adalah dunia.
 
Cokelat adalah tanah pengalaman.
 
Dengan demikian palet warnanya sudah mempunyai narasi.
 
Dan begitu pula lukisan tidak lagi sekadar lukisan pohon.
 
Ia menjadi:
 
lukisan tentang manusia.
 
Pohon hanyalah tubuh metaforiknya.
 
 
Makna Utama:
 
Lukisan ini dapat membawa beberapa pelajaran:
 
Pertama, hidup tidak selalu bisa dikendalikan, tetapi respons terhadap kehidupan masih bisa dipilih.
 
Kedua, kuat bukan berarti tidak pernah bengkok. Kuat berarti setelah dibengkokkan keadaan, kita masih memiliki alasan untuk kembali tumbuh.
 
Ketiga, masalah tidak selalu harus dikalahkan. Kadang masalah harus dilalui sambil membawa bekasnya.
 
Keempat, manusia yang terlalu lama membiarkan keadaan menentukan arah hidupnya pada akhirnya akan hidup menurut keadaan.
 
Dan inti lukisan ini ada pada pertanyaan:
 
Apakah aku sedang menjalani hidupku, atau sebenarnya aku sedang dijalankan oleh hidup?
 
 
 
 
 
 
 
 

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait