Ukuran Senyuman
oleh : Aisha Raya XI-F
Ibu Guru baru saja selesai membagikan lembaran ulangan Matematika di depan kelas. Naya melangkah kembali ke mejanya dengan langkah ringan dan wajah yang begitu berbinar-binar. Tangan kanannya memeluk erat selembar kertas yang baru saja diterimanya dari meja guru. Senyum hangat tersemat begitu lebar di wajahnya, sampai-sampai beberapa siswi yang sedang mengobrol di deretan bangku depan ikut menoleh ke arahnya.
”Wah, parah sih. Muka si Naya girang banget, pasti dapet nilai sempurna 100 tuh!” bisik Diva pada teman di sebelahnya dengan nada setengah takjub.
Rasa penasaran yang sedari tadi membuncah membuat Diva langsung beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri meja Naya. Ia sengaja mengintip sudut kertas yang dipeluk rapat oleh teman sekelasnya itu, mencari-cari angka sempurna yang ia bayangkan.
”Nay, dapet berapa kamu? Seneng banget kelihatannya dari tadi!” tanya Diva antusias sambil menatap lurus ke arah mata Naya.
Naya terkekeh pelan mendengar pertanyaan itu, lalu menunjukkan kertas ulangannya tanpa ada rasa ragu sedikit pun. Di pojok kanan atas lembaran kertas bergaris tersebut, tertera angka 75 yang ditulis dengan menggunakan tinta pulpen merah—angka yang berdiri tepat di garis batas Kriteria Ketuntasan Minimal.
Diva seketika melotot bingung, mengedipkan matanya berkali-kali untuk meyakinkan penglihatannya. “Lho? Cuma 75 pas KKM, Nay? Kirain kamu dapet nilai 90 ke atas atau jadi juara kelas hari ini!”
Naya menyunggingkan senyum yang semakin tulus sembari merapikan ujung kertasnya yang sedikit terlipat. “Bagi kamu yang selalu jadi langganan peringkat atas mungkin angka 75 ini terlihat biasa aja, Div. Tapi buat aku yang seminggu kemarin harus begadang belajar sampai larut malam dan biasanya selalu mendapat nilai 40 dari Ibu Guru, angka 75 ini sudah luar biasa indah. Ini adalah bukti nyata kalau semua usahaku tidak sia-sia, dan yang paling penting, aku bisa terbebas dari ancaman remedial minggu depan!”
Mendengar penjelasan itu, Diva tertegun seketika. Lidahnya mendadak kaku, tak mampu lagi merangkai kata untuk membalas ucapan Naya. Padahal, semua orang yang melihat raut gembira Naya di kelas mengira ia baru saja menorehkan prestasi tertinggi, padahal sebenarnya ia hanya sedang merayakan rasa syukurnya yang mendalam atas angka 75 pas KKM yang berhasil mengubah hari kelamnya menjadi kemenangan kecil yang membahagiakan. Diva menghela napas pelan, menepuk bahu Naya dengan penuh kelembutan, lalu melangkah kembali ke bangkunya dengan membawa sudut pandang baru tentang arti sebuah pencapaian hidup.